Muslimah

Akhir Sejarah Cinta Kita

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita mengenang masa depan kebersamaan
Ke mana cinta kan berakhir
Di saat tak ada akhir

—Akhir Sejarah Cinta Kita, Anis Matta.

Alhamdulillah. November datang juga, akhirnya. Ini adalah bulan yang utuh menjadi bulan pertama saya tanpa embel-embel mahasiswa. Bisa dibilang status saya tidak jelas, mahasiswa bukan, pegawai pun bukan. Sebagian kawan saya sibuk magang, kursus, travelling; tapi saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan jurusan masak-memasak, dosennya kebetulan ibu saya sendiri, di dapur rumah sendiri, hhe.

Oke, mari kembali ke Bulan November. Di bulan ini juga, 23 tahun yang lalu, Ibu dan Bapak saya menikah. 3 November 1990. Menariknya, di bulan ini, ada dua sahabat saya akhwat STAN yang menggenapkan separuh agama. Lili (Apriliani Indri Hapsari, KBN 2010) resmi menjadi seorang istri sejak 1 November kemarin, dan seorang saudari yang saya cintai karena Allah, Ina (Siti Afina Zahrah, Akuntansi 2010) juga telah melaksanakan akad nikah tanggal 9 November kemarin. Ada sebentuk sumringah, juga sebanyak-banyak doa. Semoga Allah melimpahi pernikahan mereka dengan barokah :’)

Ditengah hiruk-pikuk November yang penuh doa dan harap ini, sayangnya, ada sesuatu yang mengusik saya. Beberapa waktu yang lalu, saya tidak sengaja menonton tivi, menayangkan berita seorang istri dari almarhum da’i kondang. Tidak, tayangan itu bukanlah tayangan penuh air mata seorang istri yang belum ridho ditinggal pergi suami. Justru, di sana saya melihat seorang istri yang kini tengah berjuang membesarkan anak-anaknya sendirian, dan hebatnya pula, ia tengah belajar untuk melanjutkan apa yang selama ini dikerjakan suaminya.

“Saya ingin melanjutkan perjuangan suami; berdakwah,” begitu kurang lebih beliau berkata.

Ada sekelebat bening. Di sini.

Dan saya buru-buru mematikan televisi.

 

Allah..

Sungguh ajaib urusan seorang muslim, jika ia dilimpahi rizki maka ia akan bersyukur, sedang jika ia ditimpa musibah, maka ia akan bersabar. Seperti yang Umar bin Khattab katakan, andai sabar dan syukur adalah tunggangan, maka beliau tak peduli mana yang harus dikendarai. Subhanallah..

 

Begitulah muslimah seharusnya, jika Allah mempertemukannya dengan suami, maka ia bersyukur. Lantas jika Allah mengambil suaminya, maka ia bersabar. Ah, indahnya urusan mukmin. Hanya rasanya, terkadang saya bertanya pada diri sendiri; Kalo kamu Fira, sanggupkah?

 

Pernah saya menghadiri kajian di sebuah masjid, di sana sang Ustadz mengatakan bahwa kita seharusnya menyantuni anak-anak yatim, fakir miskin, para janda, lantas sang Ustadz mendadak berhenti. Beliau justru tiba-tiba menanyakan kepada kami, mengapa para janda? Kenapa bukan para duda? Memang untuk urusan kemandirian finansial, janda biasanya lebih perlu dibantu, namun juga tidak menafikkan kenyataan bahwa wanita cenderung berumur lebih panjang dibanding laki-laki.

“Maka kalian para akhwat, bersiaplah menjadi janda. Karena memang semua yang bernyawa pasti mati. Termasuk suami.”

Saya shock ditempat, bersama para akhwat lain yang juga mungkin sama-sama shocknya.

Ya, tidak ada yang salah dengan kalimat Ustadz tsb. Sewaktu di bangku sekolah, saya pun pernah mempelajari teori biologi mengapa perempuan lebih banyak dibanding laki-laki (eh, yg ini juga korelasinya dengan poligami) dan memang ketika saya melihat ke masayarakat sekitar, ada lebih banyak janda dibanding duda. Saya pun punya dua nenek yang ditinggal oleh kakek sejak lama. Masya Allah..

 

Tapi ternyata ada yang luput dari perhatian saya, bahwa janda tak selamanya identik dengan tua. Umur manusia, ia bisa berhenti di angka mana saja, pun berhak berhenti di kepala dua.

Saya teringat kisah Hanzhalah yang dimandikan para malaikat. Iya, ya Allah, saya selalu merinding ketika mengingat kisah ini.

Adalah Hanzhalah, lelaki yang meninggalkan istrinya di malam pertama untuk kemudian ia pergi berperang demi agama Allah. Malam pertama, bayangkan! Jika si akhwat ini orang Indonesia, tangannya masih berinai, kamarnya masih harum melati, janur kuning masih tertancap di depan rumah, piring bekas walimah belum selesai dicuci. Ia baru sehari menjadi istri, namun ia seketika menjadi janda. Hanzhalah suaminya, syahid dalam perang membela agama Allah.

Saya tidak tahu saya harus menangis sedih atau bahagia dengan kisah ini. Perempuan mana di dunia ini yang tidak ingin menjadi istri seorang syuhada, yang seketika masuk syurga? Namun juga, perempuan mana yang sanggup ditinggal suaminya di malam pertama? Begitulah, memang, hanya wanita-wanita hebat yang bersuamikan lelaki hebat. Hanya mereka muslimah tangguh yang bersuamikan tentara Allah.

Lagi-lagi saya bertanya pada diri sendiri; Kalo kamu Fira, sanggupkah?

 

Saya lantas teringat kalimat yang Ust Salim A. Fillah tuliskan dalam bukunya, Bahagianya Merayakan Cinta:

“Jadilah kekasih sejati baginya, tanpa pernah menganggap diri memiliki, karena dia adalah titipan Yang Mahakuasa, Peguasa alam semesta.”

 

Iya, mungkin disitulah kuncinya. Jangan pernah menganggap diri memiliki.

Banyaknya kisah romansa dengan ending “happily ever after” rupanya membuat saya sering lupa bahwa kisah romansa paling indah pun tetap akan punya akhir. Hanya bagaimana kita mempersiapkannya, itu yang akan membuat perbedaan nyata.

Adalah hal yang aneh, bahwa saya sendiri agaknya takut kehilangan ketika justru belum memiliki. Astaghfirullah. Maka sudah seharusnya saya lagi-lagi belajar dari Atikah binti Zaid, shahabiyah yang menjadi janda berkali-kali.

Entah mengapa, saya selalu tercenung mengingat kisah Atikah Binti Zaid, seseorang yang selalu mampu membuat saya tak habis pikir; kemuliaan macam apa yang Allah berikan pada muslimah yang satu ini, hingga semua suaminya adalah seorang mujahid, dan semuanya syahid di medan perang.

Adalah Abdurrahman bin Abu Bakar, suami pertamanya yang syahid di Perang Badar. Taukah, lantas Atikah pun dinikahi oleh Zubair bin Awwam. Ya, Zubair! Sang hawaari Rasulullah, penjaga Rasulullah, salah satu dari sepuluh lelaki yang dijanjikan syurga oleh Allah. Namun kemudian Zubair pun syahid di medan perang, lantas Atikah pun dinikahi oleh seseorang yang amat mulia, seseorang yang saya yakin setiap akhwat pasti diam-diam berdoa mendapat jodoh sepertinya. Ialah Umar bin Khattab, sang furqon, lelaki yang bahkan syaithan pun gemetar padanya. Iya, Atikah adalah istri dari Umar, sang Khalifah. Namun kemudian Umar pun syahid, menjadikan Atikah binti Zaid lagi-lagi menjadi janda. Kemudian Atikah pun dipinang oleh Ali bin Abi Thalib, hanya saja ia menolak lantaran Ali tak sanggup memenuhi syarat Atikah. Duh, Ya Allah, tidak ada akhwat yang tidak cemburu padanya, saya rasa. Semua suaminya adalah mereka yang mencintai Allah dan Allah cintai. Hingga saya diam-diam bermimpi ingin menjadi seperti Atikah, kalau memang kelak harus ditinggal suami (aduh, tapi sebenarnya gamau,T,T) semoga ia meninggalkan dunia dalam keadaan paling mulia; syuhada. Hingga Allah menjadikan syurga sebagai akhir sejarah cinta kita. Semoga..

Semoga kita semua, baik yang sudah menikah maupun yang belum, bisa saling belajar dari kisah ini. Ya, karena mati memang adalah sesuatu yang pasti. Pun dengan kematian diri kita sendiri. Wallahu’alam.

 

One thought on “Akhir Sejarah Cinta Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s