Mahasiswa

Catatan (Calon) Wisudawan

Pekan depan, mengurusi daftar ulang maba STAN 2013.
Pekan depannya lagi, mengurusi ospek maba STAN 2013.
Pekan depannya lagi, yudisium STAN 2010.
Pekan depannya lagi, wisuda STAN 2010.
Kemudian?

Tiba-tiba segala sesuatunya menjadi amat menggelisahkan.

Mungkin bahagia. Mungkin lega luar biasa. Mungkin euphoria. Mungkin juga takut. Mungkin gugup. Mungkin tidak siap. Mungkin gentar. Mungkin bahkan terlalu bersemangat. Mungkin tak sabar. Mungkin hampa. Mungkin sedih. Mungkin hilang isi. Mungkin juga bukan semuanya.

Semacam waktu yang lagi-lagi mencurangi, lantas dengan pongahnya tertawa sambil menaikkan sebelah alisnya. Semacam—apa yah—perasaan bahwa “hei, kamu sudah di titik ini, lho!”

Ya ya ya, ada segumpal rasa haru bahwa angka dua satu itu kini semakin nyata. Lulus kuliah. Alhamdulillaah!
Ah ya, saya tak ingin menjadi hamba yang kufur nikmat.

Ketika diluar sana ribuan mahasiswa tengah banting tulang dan memeras keringat demi topi toga, sedang kita hanya perlu tiga tahun memutar otak, lantas menulis laporan PKL dan semuanya menjadi sudah.

Ketika disepanjang penjuru negeri ribuan sarjana mati-matian mencari perusahaan yang hendak mempekerjakannya, sedang kita hanya harus menunggu waktu kapan nama kita tertera dengan sebuah nama instansi keuangan disampingnya.

Ketika ada entah berapa juta Bapak-Ibu yang tengah mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya, sedang Bapak Ibu kita (semoga) kini tengah menitikkan air mata bangga lantaran anak yang dilahirkannya kini hendak wisuda.

Saya tak ingin kufur nikmat. Tak ingin kufur nikmat. Maka sudah seharusnya segenap syukur tercurah untuk-Nya, satu-satunya Dzat yang menjadikan segala urusan ini mudah.
Alhamdulillah Ya Allah..

Banyak dari kita yang merasa bahwa ini adalah sebuah titik puncak, titik yang menjadikan kita bahagia luar biasa. Tertawa sepenuh mulutnya. Luapan kelegaan atas tiga tahun yang (mungkin) melelahkan. Bahwa kita akan segera menjadi wisudawan.
Namun entah kenapa saya justru merasa khawatir. Teringat sebuah ayat yang menghujam amat dalam:

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”
(Q.S. Al-Kahfi: 103-104)

Ya Allah, tiga tahun sudah kami berjuang, berlelah-lelah, berpayah-payah. Kadang sampai menangis tak kunjung mengerti apa itu cost accounting. Kadang sampai frustasi tak kunjung paham aturan tarif PPN. Kadang sampai marah-marah gegara pasal undang-undang yang menggunung-langit. Kadang dibuatnya merenggang ukhuwah atas gesekan di kepanitiaan. Kadang nyinyiran terucap lantaran banyaknya pemberitahuan dadakan. Tiga tahun sudah. Tiga tahun sudah. Bukanlah waktu yang sebentar, lantas di tiap detiknya, di tiap momennya, di tiap perhelaannya, apa Ia ridho atas usaha kita? Apa Ia terima amal-amal kita? Apa sudah lurus niat kita? Apa sudah benar cara kita?

Tiga tahun sudah kita berlelah-lelah, atau jangan-jangan semua itu sia-sia?
Astaghfirullah hal adzim..

Allah..

Jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang merugi😥
Semoga Engkau menitipkan barakah di tiap-tiap urusan kita. Iya, barakah. Entah, akhir-akhir ini kata itu melekat erat di dalam kepalasaya.

Semoga tiga tahun perjuangan ini barakah. Semoga wisuda ini barakah. Semoga penempatan kita kelak barakah. Semoga sepanjang sisa hidup, kita dilimpahi barakah. Dan semoga Ia ridho atas apa-apa yang kita upayakan, apa-apa yang kita ikhtiarkan.

wisuda

sumber gambar

8 thoughts on “Catatan (Calon) Wisudawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s