Mahasiswa

Kepastian

Pernah tertulis dalam satu blog tumblr entah milik siapa, saya lupa, tulisannya begini:

“Karena pada dasarnya, lelaki itu butuh kepercayaan, dan perempuan, ia butuh kepastian.”

Saya mikir lamaaa sekali. Bukan pada konteks kalimat itu yang cenderung mengarah pada hubungan serius laki-laki dan perempuan, tapi saya justru tertarik hanya pada klausa kedua. Bahwa perempuan butuh kepastian. Memangnya perempuan cuma butuh kepastian doang gitu, ga butuh kepercayaan apa? Memangnya lelaki juga ga butuh kepastian? Saya rasa kok, sebenarnya, dua-duanya juga sama-sama membutuhkan kedua hal itu. Oke, ini masih hipotesa.

Sama seperti apa yang saya alami hari ini, hari ini saja, sebagai sample acak. Sepagi tadi sudah menyiapkan diri untuk berangkat ke Stasiun Kota untuk menukar tiket kereta api. Pagi-pagi udah sms kawan untuk memajukan jadwal, tapi no answer, oke mungkin orangnya masih tidur. Lama sesudahnya tak juga ada jawaban. Saya pun luntang-lantung di kosan dan membunuh waktu bersama teman-teman kos. Still no answer dari teman saya itu. Saya sampai ketiduran nunggu balesan smsnya, tak ada juga. Fine.

“Firaa maap baru bales, aku masih nyebrang ke Sumatera, kita ke stasiunnya besok aja yuk?”

Lha, ini anak ngapain coba malah ke Sumatera.

“Aku cuma jalan2 kok Fira, hehe, nyeberang ke Sumatera terus balik lagi ke Jakarta”

Saya speechless.

Padahal udah janjian dari kemarin, udah sepakat, udah fix pasti, tapi mendadak di cancel. Oke sebenarnya gpp sih. Tapi tetap aja, ga bisa besok, tiket harus ditukar hari ini juga, kalo nunggu besok takutnya tiket udah habis. Kalo perlu sya berangkat sendiri ke stasiun.

Hebatnya, sebelum berangkat saya izin orang tua. Telpon. Hasilnya: boleh pulang sendirian naek kereta dari Jakarta ke Surabaya, tapi ga boleh nuker tiket berangkat sendirian Bintaro-Tanah Abang. Yang jauh dibolehin sendirian, yang deket justru ga boleh. Saya bingung juga sebenarnya, tapi yauda tetap nurut aja sih.

Then, sms seorang kawan datang. Menyatakan gelisahnya akan jadwal yudisium dan wisuda. Saya ikutan pontang-panting nyariin kepastian tanggal kelulusan kami. Hasilnya, yudisium September, wisuda Oktober. Itu info dari lembaga, udah menyebar juga di anak-anak. Yauda, saya pikir itu sudah pasti.

Nyatanya, barusan pula lembaga press release, yudisium Oktober, ternyata, dan itu mengubah banyak hal dari kawan saya, dan mungkin orang-orang sekitarnya. Hela nafas. Andai mereka tahu pergeseran jadwal ini mengubah hidup banyak orang.

Pun, saya teringat mengapa saya capek-capek nukar tiket ke Stasiun. Karena jadwal Pengarahan PKL yang mulanya 21 Juni dimajukan jadi 18 Juni. Fine. Saya sih seneng2 aja karena pulang cepat. Tapi nyatanya, celaka bagi yang lainnya. Sya di sms berkali-kali sama panitia Pemira (Pemilihan Raya) mengenai keabsahan jadwal pengarahan yang mendadak maju itu. Bagaimana tidak, Pemira yang mulanya diagendakan tanggal 21 Juni untuk mendapat massa biar elektabilitasnya tinggi, mendadak harus siap dengan resiko kehilangan 400an suara karena mahasiswa KBN PPLN sudah melayang entah ke Indonesia sebelah mana.

Fine. Tidak ada yang pasti di kampus saya ini.

Serba mendadak, serba gonta-ganti jadwal.

Sama juga seperti ketika di commuter line Pondok Ranji-Tanah Abang yang penuh sesak itu, saya ditelpon teman:

“Shaf, laporan keuangan udah? Nanti sore bisa kuambil?”

Mati. Ngerjain aja belum.
Lagian ini juga minta nanti sore, lha wong dianya aja nelpon jam dua siang coba.

“Hmmm, malem ini aja ya? Aku otewe Tanah Abang. Gimana?”

“Yauda deh Shaf, besok pagi aja ketemu aku ya.”

“Iya iya, besok pagi.”

Tarik nafas, hembuskan. Malem ini begadang revisi outline dan ngerjain laporan keuangan berarti, beginilah akibatnya seorang eternal-procastinator seperti saya..

Padahal, kalau mau cari-cari alasan, tidak ada kepastian juga harus submit laporannya kapan, tidak ada tanggal fix. Tidak ada kepastian, dan mendadak ujug-ujug udah ditagih aja. Oke, resiko saya juga mau-maunya ditunjuk jadi bendahara dadakan. (Inget Fira, ruhul istijabah! Iya, iya :’))

Sama seperti tulisan ini yang ga jelas, dan ga pasti juga sebenarnya ini tulisan apaan, intinya menyampaikan apa. Yah, hidup kita sebenarnya, kalau ditelisik lagi, penuh dengan ketidakpastian.

Mendadak saya inget twit kakak organda pasca heboh press release USM ****. Kurang lebih twitnya begini:

“Kalau mau yang pasti-pasti, ga usah kuliah di **** deh. Sering di PHP-in.”

Haha, saya ketawa. Inget banget dulu alasan masuk kampus ini karena katanya udah pasti dan terjamin. Mana? Kakak tingkat saya aja ga pasti juga nasibnya.

Sama seperti temen-temen saya para aktivis kampus yang katanya mau lebih dulu bikin timses angkatan, biar nasib kami ga kayak kakak tingkat yang ga jelas nasibnya itu. Tapi ujungnya sama juga, bahkan mencari pegangan pun kami ga pasti juga. Mau minta pegangan ke siapa? Lembaga? Saya inget diskusi sama salah satu Menteri di BEM, katanya sih pake analogi begini:

“ibarat tukang cat yang menerima pesanan. Kalau pesanan sudah jadi, ya diberikan kepada yang memesan. Terserah yang memesan mau diapakan.”

Haha, saya ketawa baca perumpamaan itu. Kenapa harus tukang cat coba?
Tuh kan ga pasti lagi.

Kemudian juga, saya inget kemarin (5 Juni) ditelpon heboh sama temen-temen di BEM yang ngajakin saya ikutan ke Senayan, menjadi fraksi balkon mengawal Sidang DPR terkait Kasus Century yang juga–-akhirnya-—dihadiri oleh Pimpinan KPK. Saya mah semangat-semangat aja ikutan berangkat rame-rame ke Senayan, kapan lagi ikutan ngawal Sidang DPR bareng temen2 BEM Seluruh Indonesia pula. Nyatanya kami ditolak, eh ga juga sih, yang dibolehin masuk hanya satu orang untuk tiap BEM kampus. Walhasil, dari kampus saya yang masuk cuma Wapresma, kami yang lain (yang tadinya dijanjikan bisa masuk dan jadi Fraksi Balkon di Ruang Sidang) malah luntang-lantung di emperan senayan, bersama temen-temen BEM kampus lain, menghimpun massa buat bisa maksa masuk ceritanya.

Saya ikutan nimbrung teman saya yang meyakinkan Pak Satpam yang menahan kami di parkiran Gedung DPR MPR RI.

“Pak, kami masuk ya? Masuk aja ke dalam tapi ga di ruang sidang,”

“Kalian ini sukanya masuk terus demo di dalam, nanti saya dimarahi anggota dewan,”

“Nggak demo Pak, beneran deh.”

“Kalian bisa jamin ga kalo kalian masuk bakalan tertib? Nanti malah semuanya masuk, terus malah orasi di dalam. Anak BEM sukanya kayak gitu, bilangnya aja ga demo, tapi ntar demo juga akhirnya.”

Haha, tuh kan, mahasiswa juga ga pasti juga tuh, ampe satpam aja ga percaya sama kita.

Jadi sebenarnya kamu nulis apaan, Fira?
Gatau, haha. Cuma mau menyangkal aja sih, kutipan pertama yang saya tulis di awal itu, tulisan di tumblr entah punya siapa. Kayaknya yang butuh kepastian bukan cuma perempuan deh, tapi ya semua orang. Temen-temen kampus saya misalnya, yang justru perempuan adalah minoritas, kami semua butuh kepastian. Kepastian tentang semuanya, atau minimal, jangan di PHP-in lah.

Sekian :’)

2 thoughts on “Kepastian

  1. Hihi, iya, banyaknya ketidakpastian di sekitar kita kadang malah bikin lupa kepastian itu bentuknya seperti apa….

    Setidaknya, ada yang bisa disyukuri bahwa manusia diciptakan secara fleksibel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s