Mahasiswa

Opini: Menolak Lupa

Oleh Shahfira Alif Asmia, dimuat di Majalah Civitas edisi Maret 2013.

“Semangat perubahan. Semangat untuk mengubah Indonesia menjadi yang lebih baik. Semangat menolak lupa. Gegap gempita “Hidup Mahasiswa!” yang mendenyut nadi, yang ketika SMA saya cita-citakan keberadaan denyut itu. Membungkam para pengkhianat konstitusi, menciptakan ide-ide dan menuangkannya ke dalam tulisan ilmiah. Masuk ke forum-forum, berderak dalam gerak-gerak.

Akhirnya saya menemukan semangat itu lagi.”—Saputri’s Tumblr

Itu tulisan di Tumblr seorang kawan tentang betapa ia menemukan dirinya yang telah hilang sejak lama. Ia menulistepat sepulangnya ia dari sebuah perhelatan pergerakan dengan fokus people power, sebuah kegiatan yang sangat cukup untuk memantik kembali semangatnya dan secara tak langsung ikut menyulut bara semangat saya, yang beberapa saat terakhir memang sedang bergemuruh.

Ini tentang ingatan yang tiba-tiba muncul kembali. Bahwa ternyata kita dulu pernah sangat merdeka menjadi manusia. Bebas bermimpi dengan segenap cita bahwa kita akan menjadi orang-orang yang terdepan dalam perbaikan bangsa, orang-orang yang tergerak untuk memajukan Indonesia. Menciptakan perubahan, menggelorakan peradaban.

Seperti halnya Saputri yang terkenang betapa ia pernah jaya ketika SMA, saya pun merasa demikian. Merasa bahwa,“Kayaknya aku dulu waktu SMA lebih dari sekarang deh.” Hal yang memalukan, menyadari bahwa ternyata tak banyak perkembangan yang terjadi dalam diri, tetapi justru sebuah kemunduran yang didapati.

Selama dua tahun belakangan saya terus-menerus menyalahkan sistem pembelajaran di kampus yang tak memberikan banyak insentif kepada mahasiswanya untuk berkembang. Tidak banyak dukungan yang digelontorkan untuk menajamkan pemikiran dan mendorong kemajuan mahasiswa.

Yang diwariskan justru sebuah tirani kepasrahan yang menjadikan mahasiswa tak mau banyak bergerak. Takut salah, takut kenapa-kenapa, takut DO. Dan, parahnya, selama dua tahun itu saya pun ikut tergerus arus kepasrahan yang sama.Saya sempat sangat khawatir terhadap hati yang kufur nikmat lantaran terus-menerus tak bisa mensyukuri dan memaksimalkan potensi diri ketika berada di kampus ini.

Semakin saya mempertanyakan semua ini,semakin banyak yang berkata, “Udah deh Saf, lu itu di STAN. Kampus kita memang begini.Udah deh, terima aja kenyataan.”

Tentu tidak mudah melupakan bahwa saya dulu pernah lebih jaya dari ini. Saat ini, di usia dua puluh dan hampir lulus kuliah ini, seharusnya saya berkali lipat lebih jaya daripada masa SMA. Tapi kenapa justru—seolah—mundur begini?

Dan nyatanya, mengagumkan.Meski banyak yang “memarahi” saya dan tidak suka dengan pemikiran saya bahwa kita harusnya tidak menjadi anak penurut yang duduk manis, ternyata mereka yang berkata demikian hampir semuanya mengakui bahwa mereka dulu pernah lebih jaya, lebih merdeka.

Coba tanyakan pada diri sendiri dan kepada teman-teman di kelas, kos, organisasi, atau bahkan teman mengaji. Siapa kita dahulu? Lulusan terbaik di SMA? Juara Olimpiade?Pemenang berbagai LKTI?Jurnalis terbaik di sekolah? Ketua OSIS?Best Speaker English Debate?Ketua KIR? Ketua Rohis?Siswa pertukaran pelajar ke luar negeri?Lalu, jika dahulu kita menjadi orang-orang dengan segudang prestasi, kini, siapa kita?

Agaknya sekarangkita terlalu terlena dengan keberadaan kita di pinggiran ibukota yang—mau tak mau—dimanjakan oleh berbagai suguhan menariknya. Waktu kita mungkin lebih banyak tersita untuk jalan-jalan ke Bintaro Plaza, jajan ke Seven Eleven, karaoke di Happy Puppy, belanja di Blok M, atau aktivitas menyenangkan lainnya.

Sayangnya, dengan aktivitas itu, kita tergiring untuk melupakan potensi kita. Sudah berapa kali prestasi yang kita ukir selama menjadi mahasiswa? Mungkin kita bisa menengok kembali sejenak untukmembandingkan diri. Lebih banyak mana prestasi kita—semasa kuliah atau justru semasa sekolah?

Di masa kuliah ini, tidak ada Pimnas. Tak ada PKM. Tak ada persaingan memperebutkan beasiswa yang bisa menjadi insentif untuk bergerak. Belajar? Kan sudah ada kisi-kisi, jadi tak perlu belajar setiap hari. Dosen pun menilai dengan sistem pukul rata, meski hanyasebagian kecil yang melakukannya.

Ada banyak sekali alasan bagi kita untuk tidur sepanjang hari dan kuliah dengan setengah hati. Tapi, apakah alasan-alasan itu layak untuk mengkhianati potensi diri sendiri? Apakah mereka pantas membuat kita melupakan uang puluhan juta rupiah yang dikucurkan pemerintah demi kuliah kita yang gratis ini?

Andai kita mau lebih jernih melihat potensi kemahasiswaan kita, niscaya kita akan terpantik untuk terus memperdalam potensi diri. Andai kita mau menengok lebih dalam, sebenarnya ada banyak wadah bagi kita untuk terus melanjutkan kiprah dalam prestasi.

STAN Olympic Team (SOT) misalnya, yang rajin memasok medali dari berbagai perlombaan bergengsitingkat nasional. Sungguh, kawan-kawan kita di SOT menjadi lawan yang amat sulit ditumbangkan oleh kompetitor dari kampus lain.

Pun dengan elemen kampus lainnya, seperti UKM di bidang olahraga yang terus-menerus menggelontorkan prestasi ke kantong-kantong almamater STAN.Wadah-wadah prestisius ini pun nyata-nyata didukung oleh Lembaga, baik dari segi moril maupun materiil.

Melihat kenyataan yang ada, kini terang-benderang sudah “kebutaan” saya selama dua tahun di sini. Kita tak bisa berkilah, ternyata kampus menyediakan paket lengkap untuk mengasah kemampuan diri.

Saya sadar, dua tahun lamanya saya menyalahkan kampus. Padahal, kampus sama sekali tak salah. Yang salah adalah saya, yang amat sangat pelupa. Lupa bahwa saya sesungguhnya dikaruniai potensi dari yang Mahakuasa. Lupa bahwa kampus menyediakan seabrek fasilitas dan dukungan yang kita butuhkan.

Kita dididik untuk menjadi seorang pejuang negara yang sudah disiapkan dengan jelas spesifikasinya, sudah gamblang gambarannya. Keterlaluan jika kita masih saja tak tahu harus ngapain nantinya.

Karena kita akan menjadi orang-orang yang berjuang di garda terdepan untuk melindungi bangsa, orang-orang yang terpilih untuk menyelamatkan uang rakyat, sadarkah betapa berat amanah yang akan kita emban? Lantas, sudah berapa banyak bekal yang sudah kita persiapkan? Sudah berapa banyak rasa manja dan tak peduli yang sudah mampu kita kikis dari dalam diri?

Ketika menulis ini, mahasiswadi kampus sana sedang ramai sekali meneriakkan suara kencang-kencang sambil menghantam langit dengan kepalan tangan. Mereka membuat brigade dan maju ke barisan paling depan, demi membela pedagang stasiun yang nasibnya dipermainkan.

Sempat berdiskusi dengan seorang kawan yang sama-sama merasa jauh lebih bersuara ketika SMA, sama-sama menyayangkan potensi diri yang menganggur begitu saja.

“Kita ini dibiayai rakyat. Dari rakyat! Bukan dari negara! Aku yang anak pajak, paham siapa saja yang ditarik pajak. Mereka-mereka yang tak mampu pun ditarik pajak.”

Kita bisa duduk manis di Gedung I yang dingin dengan kursi yang empuk karena rakyat. Kita bisa dapat uang rapel ratusan riburupiah karena rakyat. Kita bisa baca buku-buku akuntansi di perpustakaan karena rakyat.

Karena rakyat, karena rakyat.

Kalau rakyat disakiti, kalau mereka dikhianati, seharusnya kita yang maju di barisan paling depan. Seharusnya teriakan kita yang paling lantang.

Tetapi, jangankan berteriak lantang, yang selalu ditangkis dengan alasan,“Tabu, kita kan mahasiswa kedinasan,”aksi simpatik mendukung KPK—yang berjuang demi rakyat—saja partisipannya tak sebanyak yang diharapkan. Ajang diskusi yang diadakan elemen kampus juga sepi peminat. Jangankan aksi, sekadar diskusi, sekadar obrolan santai tentang seperti apa itu rakyat, sudahkah iamenjadi topik utama obrolan kita sehari-hari?

 

Saputri pernah bertukar cerita dengan saya tentang kisah runtuhnya Isbania. Dahulu, ada seseorang yang dikirim untuk memata-matai Isbania. Tugasnya hanya mendengar dan menyaksikan bagaimana orang-orang di sana mengobrol. Ya, hanya untuk mengetahui seperti apa obrolan masyarakat di sana. Sebab, dari obrolan inilah akan ditarik kesimpulan tentang bagaimana obsesi masyarakat Isbania saat itu.

Ketika sang intelijen sedang berjalan untuk mencari informasi, ia bertemu dengan seorang bocah Isbania yang sedang menangis.Dihampirilah bocah itu dan ditanya kenapa ia menangis. Si bocah menjawab bahwa biasanya setiap kali dia melepaskan satu anak panah, ia bisa mendapatkan dua burung sekaligus. Namun pada hari itu, sekali melepaskan satu anak panah, ia hanya mendapatkan seekor burung.

Mendengar jawaban seperti itu, mata-mata tadi mengambil kesimpulan bahwa obsesi kaum Isbania saat itu masih terfokus pada perjuangan. Buktinya, bocah yang masih polos itu melatih diri untuk memanah dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa para orang tua di Isbania masih terobsesi akan perjuangan, dan obsesi tersebut menular kepada anak-anak mereka.

Setelah masa berlalu berabad-abad, datang lagi mata-mata dari Barat untuk melihat bagaimana kaum Isbania mengobrol.Ia datangi tempat-tempat berkumpulnya mereka. Ternyata ada kesamaan pada semua tempat dalam hal obrolan, semuanya sedang memperbincangkan budak perempuan yang cantik, suara wanita yang merdu, rumah yang bagus, dan hal-hal materialistis lainnya.

Merasa yakin bahwa gaya obrolan kaum Isbania sudah sedemikian rupa, pulanglah sang mata-mata dari Barat itu dengan penuh semangat. Sesampai di negerinya, berbagai rencana untuk menaklukkan Isbania—negeri yang sudah delapan abad berjaya—mulai disusun.

Dan akhirnya kita semua mengetahui bahwa—semenjak saat itu sampai sekarang—negeri itu bukan lagi negeri Isbania, melainkan negeri Spanyol yang sudah dijajah Barat sebelumnya.

Begitu dahsyat bukan arti sebuah obrolan? Ia bisa menjadi cermin karakteristik suatu masyarakat. Lewat obrolan kita bisa menilai, apa saja yang memenuhi otak-otak suatu kaum. Dan siapa menyangka jika obrolan sehari-hari ternyata berhubungan dengan kejayaan suatu bangsa?

Saya tahu, mahasiswa STAN itu orang-orang yang sangat mencintai bangsanya, pernah jaya, pernah sangat merdeka dalam pemikiran. Maka dari itu, saya hanya ingin mengingatkan kita pada potensi yang pernah kita miliki namun terenggut oleh kata berjudul lupa;pada cita-cita dan mimpi-mimpi yang pernah kita deklarasikan namun hilang ditelan lupa;pada semangat perbaikan dan pekik perjuangan yang pernah terpatri namun dikikis oleh lupa.

Yang paling penting, kita harus menyadari bahwa kita adalah pemuda, lengkap dengan semangat yang menggelegak di dalam dada, asa yang bertumbuh menggelora, dan cita-cita yang terikrar dengan segenap jiwa. Ingatkan diri kita, tak perlu kita menjadi tua sebelum waktunya hanya karena kita tak ingat potensi kita,lupa siapa kita, lupa pada karunia Allah yang diberikan kepada kita.

 

Lalu apa yang bisa dilakukan sekarang?

Mari menolak lupa! Mari ingat kembali siapa diri kita dan apa saja yang seharusnya bisa kita perbuat untuk perbaikan bangsa. Kita pernah menciptakan mimpi-mimpi itu dan kita akan terus menerus mengingatnya dalam hati, dalam pemikiran, dalam perbuatan. Hal paling nyata yang bisa kita lakukan adalah mengasah potensi kita, melipatgandakan prestasi kita.

Atau, mari mulai dengan hal yang amat sangat sederhana, yaitu dengan mengubah obrolan kita; obrolan terkait perjuangan, obrolan tentang rakyat yang kita bela, obrolan mengenai betapa inginnya kita berbakti kepada bangsa. Dari obrolan itu, kita akan menemukan kembali siapa kita dan seperti apa perjuangan kita untuk mengabdi pada bangsa ini.

9 thoughts on “Opini: Menolak Lupa

  1. Artikel yang sarat dengan upaya motivasi diri😀
    Khas mahasiswa, yang jiwanya berapi-api dan suka menuntut perubahan dari sistem yang buruk.
    Semoga semangat itu tetap bisa dijaga sampai setelah lulus nanti. Karena mahasiswa STAN mengemban tanggung jawab dunia dan akhirat. (baca: uang rakyat).
    Selama ini saya sering ngobrol dengan beberapa kawan, kawan saya bilang, klo lulusan STAN, terutama bagian pajak, sering ditempatkan di tempat-tempat “basah”. Tempat-tempat yang rawan dengan uang “abu-abu”.
    Bagaimana pendapat mbak tentang hal itu? Apakah benar seperti itu?
    Apakah sekarang udah ada sistem yang bisa “mengeringkan” tempat-tempat basah itu? Memberantas praktik uang-uang “pelicin”?
    Atau kah yang saya dengar dari kawan saya itu hanya gosip yang tak benar?

    1. Perkara bagaimana di tempat kerja, saya belum tau faktanya, karena saya masih mahasiswa. Tapi berdasar cerita dosen2 yang hampir semuanya birokrat di Kemenkeu, juga cerita para kakak tingkat, memang banyak uang ‘abu-abu’ yang beredar, tapi itu dulu, sebelum adanya reformasi birokrasi. Dalam pelaksanaannya, reformasi birokrasi yang diterapkan di Kemenkeu adalah yang terdepan, bisa dibilang yang terbaik bahkan. Berdasar cerita para dosen dan kakak tingkat pula, penggunaan uang pelicin sudah tak ada, semoga benar adanya. Namun seperti apa kenyataannya yang sebenar-benarnya sekarang, saya tidak punya kapasitas untuk menjawab. Atau mungkin kakak yang komen di bawah ini (cc: Kak Edwin Hayadi) bisa bantu jawab, kan udah merasakan gimana atmosfer DJPB🙂

      Satu hal yang saya bisa jawab dengan pasti, bahwa STAN tidak pernah mendidik mahasiswanya untuk menjadi seorang koruptor. Dan perkara basah dan tidak basah, saya rasa semua tempat bisa menjadi ‘basah’ atau ‘kering.’ Pada intinya semua tetep tergantung individunya, bukan perkara almamaternya.

      1. Oh rupanya ada reformasi birokrasi ya.

        Saya percaya, pastinya ga ada sebuah perguruan tinggi yang mendidik mahasiswanya untuk melakukan hal yang buruk.
        Di Indonesia ini sedang membutuhkan revolusi akhlak besar-besaran, semoga pemikiran anak muda yang akan jadi penerus bangsa ini tetap kritis dan konsisten terhadap prinsip seperti halnya mbak shahfira dan kawan-kawan seperjuangannya.

        Akhirnya, semua memang tergantung pada individu, semoga para individu itu nanti tak akan kalah oleh kekuatan “kelompok” yang sering menggunakan senioritasnya di dunia kerja untuk menekan prinsip para junior yang ingin melakukan perubahan.

        Dan semoga, reformasi birokrasi yang sudah dijalankan benar-benar membawa perubahan menjadi lebih baik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s