Mahasiswa

Kontemplasi Hedging

Ini adalah tulisan Anas Azwar, Menteri Kasasi (dulu sih namanya Menteri Humpol—Humas Politik) BEM STAN 12/13. Dipost di group Keluarga BEM STAN, karena kebetulan (katanya sih, terinspirasi) 2 BEMers yang tulisannya dimuat di Civitas hari ini, saya dan Yussi Mirati. Sudah izin orangnya kok. Recommended untuk di baca🙂

“Malem para pemuda, tadi disela-sela kuliah AKL yg memusingkan saya baca majalah civitas dan menemukan beberapa tulisan menarik. Ada tiga tulisan yang saya baca, isinya tentang kepribadian, karakter, dan mahasiswa.   Akhirnya menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini.

Sekarang pergerakan mahasiswa memang sedang tidur. Para aktivis biasa menyebutnya sebagai ‘beda masa‘. Masa kita sekarang tidak bisa disamakan dengan zaman pergerakan dulu yang memang penuh pergolakan politik, sosial, dan ekonomi. Sekarang kita berada dalam masa damai. Pertanyaannya adalah Tidak bolehkah mahasiswa menikmati masa damai itu? setiap orang punya jawaban beragam atas pertanyaan ini, namun yang pasti sebagian aktivis pergerakan zaman orde lama dan orde baru sudah menikmati kedamaian itu. entah itu bagi-bagi ‘kue kekuasaan‘ atau menikmati kedamaian dalam buaian tanah indonesia.

Lalu kapan pergerakan mahasiswa itu bangun? Jawabannya ketika mahasiswa merasa lapar. Salah satu faktor pendorong lahirnya pergerakan mahasiswa dulu adalah karena perut mereka yang tidak bisa diajak kompromi lagi. Kondisi politik payah. Dampaknya harga sembako melambung tinggi. Dapur tidak bisa mengepul. Perut keroncongan. Bayi menangis. Saat itulah pergerakan muncul. Maka saat rakyat dan mahasiswa sendiri masih bisa makan, pergerakan mahasiswa belum akan muncul. Inilah salah satu strategi yang dipakai rezim SBY dengan memberikan BLT kepada rakyat miskin. Maka sekontroversial apapun kebijakan yang dikeluarkan, rezim SBY tidak akan runtuh selama rakyatnya masih bisa makan.

Dari latar belakang pergerakan mahasiswa yang begitu masiv sampai bisa menumbangkan sebuah rezim, mahasiswa era reformasi terus mendapat kritikan bahkan dari para aktivis kampus sendiri. Lebih banyak mengikuti acara hiburan dibanding forum diskusi. Lebih banyak tampil di acara tv daripada turun ke jalan. Lebih banyak bergosip dibanding berdiskusi tentang kondisi rakyat. Lebih banyak nongkrong di sepel dibanding perpustakaan. Tak ada pergerakan yang masiv. Tak ada kontribusi yang nyata pada masyarakat. Itulah beberapa ktirikan yang dilayangkan kepada mahasiswa era reformasi. Ditambah perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat mahasiswa menjadi candu gawai dan lupa pada statusnya.

Pertanyaannya, apakah semua mahasiswa harus mengambil jalan yang diwariskan mahasiswa era 60-an dan 90-an? Jawabannya kembali pada diri kita sendiri. Karena kita adalah tuhan, mungkin terlalu ekstrim memakai kata tuhan, kita pakai kata ‘raja‘. Karena kita adalah raja atas diri kita sendiri. Kita berhak menentukan karakter dan kepribadian yang melekat pada diri kita. Tak perlu mendengar kritikan dan hidup dari komentar orang lain. Bukankah status mahasiswa sebagai ‘Agent of change‘ hanyalah warisan sejarah. Bukankah kata ‘iron stock’ hanyalah bualan kakak tingkat ketika kita masuk pertama kali di bangku kuliah. Jika hasil kontemplasi memilih jiwa mahasiswa sebagai ‘agent of money’ , maka pilihlah itu. Jika dari hasil kontemplasi kita memilih jalan sebagai ilmuwan, apakah itu salah. Kitalah sendiri dan bukan orang lain yang menentukan karakter mahasiswa kita. Apakah kita akan terus maju atau justru terpuruk karena kritikan dan komentar orang lain. Itulah yang membedakan antara pemenang dan pecundang. Jangan terlalu terbebani dengan status mahasiswa yang harus ini, itu, seharusnya begini, tidak boleh begitu, dsb. Yang terpenting adalah karakter mahasiswa yang melekat pada diri kita adalah hasil penyelaman filosofis mendalam terhadap diri kita. Maka tak salah kita mengambil karakter sebagai mahasiswa kedinasan, sebagai pesanan yang sedang dipersiapkan bagi sang pelanggan. Pesanan yang siap ditempatkan di seluruh pelosok negeri. Pesanan yang siap menjadi pasukan terdepan dalam mengisi kas negara. Pesanan yang memenuhi lima nilai luhur. Menjadi pesanan yang bahkan tidak sesuai dengan cita-cita kita dulu.

Suatu saat nanti ketika kebutuhan biologis mahasiswa tidak bisa terpenuhi. Maka pergerakan masiv itu akan muncul. Pertanyaanya, siapkah kita jika hari itu datang? Jika sekarang kita masih sering hadir di acara tv mengenakan almamater daripada turun ke jalan. Jika sekarang kita masih lebih suka nongkrong d tempat hiburan dibanding forum diskusi. Jika kita masih terhegemoni kata DO. Jika kita masih terhegomi status sebagai mahasiswa kedinasan. Jika kita bahkan tidak bisa mengkritik metode kuliah yang memang salah. Jika kita tidak memiliki kepekaan terhadap kondisi bangsa dan negara. Mari bangun mahasiswa! UTS seminggu lagi.”

Makasih, Nas!😀 Sering-sering ya nulis kayak gini!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s