Menulis

Bukan Fiksi

“Maka mulai hari ini dan seterusnya, marilah bersikap sebagai tuhan bagi diri kita sendiri, tuhan yang menentukan bagaimana kita akan menjalani hari dan perasaan apa yang akan kita rasakan. Karena kita yang bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri, kita yang menjadi aktor utama dalam drama kehidupan kita sendiri, mengapa harus membiarkan hal-hal laun mengintervensi?”
—Menciptakan Diri Sendiri, Majalah Civitas hal. 41. 18 Maret 2013

Membaca ini, lantas saya teringat sebuah tulisan yang saya paksakan menuliskannya. Ketika saya sadar saya mendadak tak bisa menulis, hanya karena penulis-penulis lain yang saya kagumi tulisannya juga sedang absen dari kancah tulis. Tidak, saya tak boleh berhenti menulis, berbahaya, karena menulis bagi saya adalah obat atas ketidakwarasan dalam memandang realita. Sebentar saja tak menulis, kepala saya jadi gila.

“Setiap fiksi yang tercipta, nyatanya adalah diri penulisnya, yang tak tersuarakan, yang tak dinampakkan. Lalu angin akan membawanya terbang. Melayang. Fiksi. Picisan sekali.

Baru aku sadar, hidupku tak boleh tergantung pada
kisah nalea racikan sastrawan koran
atau wanita rahasia milik aktivis klimis.
Jauh-jauh hari harusnya aku tau,
hidupku adalah novel yang ditulis dengan tanganku, bukan tanganmu.”
–Me, 4 Maret 2013.

Alhamdulillah, sekarang udah mulai nulis lagi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s