Kontemplasi

Note to Myself

Si R ke Paris, Perancis. Si F ke KL, Malaysia. Si I ke Hongkong. Fira?

Padahal dulu kalo ngomongin prestasi, saya ga kalah. Padahal dulu kalo ngomongin siapa yang lebih pandai, ah, kami sebelas-duabelas. Padahal dulu kalo lomba, yang menang juga kita, kadang juara satunya saya, kadang juara satunya dia, tapi kita selalu sama-sama juara. Padahal dulu kalo mewakili kota ikut seminar berbahasa asing juga kita, saya dan dia. Dulu kalo OSN juga kita, saya dan dia. English Debate? Kita juga, mulanya dia yang best-speaker, kemudian saya, selalu begitu, bergantian. Forum siswa berprestasi? Kita juga. Saya dia dia. Saya dia dia. Selalu begitu.

Namun kini, Si R ke Paris, Perancis. Si F ke KL, Malaysia. Si I ke Hongkong. Fira?

We were so equal. We were. Sayangnya, bukan we are.

Menyenangkan ya? Indah? Mengagumkan? Keren? Iya, tapi itu dunia, Fira. Dunia, dunia. Jangan lupa, ini hanya dunia. Hanya dunia.

Celaka lah kamu, Fira, yang menangis tergugu lantaran cemburu karena teman-teman SMA-mu sudah bertebaran di benua lain bumi ini, sedang engkau masih juga disini-sini. Celaka lah kamu, Fira, yang justru sibuk menangis mencemburui mereka namun lupa menangisi dosa-dosa. Celakalah kamu, Fira, celaka!

Kenapa justru memeras hati untuk dunia, Fira, padahal akhiratmu mendadak kau lupakan? Kenapa cemburu pada mereka yang keliling dunia, Fira, kenapa tak sibuk mengarahkan hati tuk mencemburui mereka yang syahid di Palestina? Mengapa tak menangis cemburu pada mereka yang hafidz 30juz? Mengapa tak menangis cemburu pada mereka yang memakmurkan masjid? Mengapa bahkan cemburu pun engkau harus salah sasaran, Fira, Masya Allah!!

Si R ke Paris, Perancis. Si F ke KL, Malaysia. Si I ke Hongkong. Fira? Di sarmili aja. Deket kok sama MBM, hampir tiap malam ada kajian disana. Jika niatnya lurus, insyaAllah, bisa mengantarkanku ke sebuah tempat yang lebih canggih dari Hongkong, lebih keren dari KL, lebih romantis dari Paris: surga. Semoga.

Still, we are equal,
kan?
Awas ya, ku kejar kalian! Janji!

7 thoughts on “Note to Myself

  1. Membandingbandingkan prestasi. Alhamdulillah saya bukan termasuk yang demikian. Menikmati perjuangan, melawan arus atau mengalirinya, jelas lebih nikmat. Meski kadang terasa menyakitkan jika dibandingbandingkan orang lain dengan orang lain. Dulu, dulu sekali saat zaman masih merah muda, saya pernah di nomor satu dari 240an siswa lain. Tapi saat Negara Api menyerang dan semua berubah, saya ada di buntut deretan nomor 30, saya hanya tertawatawa meringis saja.

    Lalu, takdir menuntun ke arah yang tak disangkasangka. Dan terlirihlah kalimah tamhid.

    1. “Alhamdulillah saya bukan termasuk yang demikian.”
      Wah, penggunaan kata alhamdulillah itu seakan menohok saya.

      Iya, jauh-jauh hari saya sudah paham kekurangan diri, saya ini kerap sekali membanding-bandingkan diri dengan orang lain, hasilnya, kadang bagus, kadang tidak. Tapi untuk kali ini, mungkin, saya hanya sedang terkaget-kaget mendapati mereka yang dulu berada pada garis yang sama, yang memiliki mimpi-mimpi yang sama, kini mereka melangit angkasa. Atau mungkin memang sejak dulu kami tak pernah berada di garis yang sama. Ah, apapun itu, semoga bisa menjadi salah satu pemantik semangat, namun bukan menjadi satu-satunya sumber semangat..

    1. beda hafidz dan hafidzah apa ya kak? kalo cuma gender, menurut saya kalimat saya ga perlu diperbaiki, karena fokusnya ada pada hafal 30 juz-nya, bukan pada gender hafidz atau hafidzahnya. Kecuali kalau memang ada beda makna antara hafidz dan hafidzah, mungkin akan diperbaiki..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s