Cerpen

Dua Puluh

–Juara 2 Lomba Cerpen Winter Season by IMMA dan Simpul PPLN (STAN)

“Growing up is never easy.”

—Anonim.

Bintaro.

Penghujung tahun 2013.

 

Perlu menunggu hingga genap berusia dua puluh dulu, untuk kemudian menghimpun berkarung-karung keberanian sewarna perdu, lalu, sebuah helaan nafas panjang dan langit sudah harus sangat biru. Hujan tak boleh turun dulu, rambut sudah harus disisir rapi dan diikat satu, dan hati: ia sudah tak gentar dan siap menjadi kelu.

Untuk kemudian sekedar mengetik pesan singkat lewat hape usang yang mengelupas disana-sini;

Bu..

Langit masih sangat biru, dan hati sudah kocar-kacir menjaga ceruk kalbu yang berisi kupu-kupu. Ibu, ketika engkau berusia dua puluh dulu, apakah juga sepertiku kini?

Dua puluh. Astaga, sudah dua puluh tahun aku mondar-mandir di atas tanah yang tak henti menggeliat meminta revolusi. Seorang kawan sudah menyebar undangan, lebih banyak kawan yang sudah rapi memakai dasi dan sepatu pantofel mengilat, sebagain lain menginjakkan kaki di negeri seberang: meminta asupan ilmu dari sang maestro, sisanya tak jelas sibuk apa dan bagaimana. Sedang aku hanya memandangi tanah yang bergetar, berusaha menangkap bait puisi yang disampaikan angin lewat sela-sela jari. Menjadi—seolah—saksi atas waktu yang berlari jauh lebih cepat dari yang aku sadari.

Aku sudah dua puluh, ternyata.

 

Pertama, begini, mula-mula surat kelulusan.

Kemudian, sebuah perayaan yang tiap tahun digelar bagi mereka yang sekuat jiwa memburu topi toga. Ada semacam skenario yang terputus dan sang sutradara beralih pada diri sendiri. Seperti paragraf yang tak tahu bagaimana melanjutkan kalimat dalam sepotong prosa, seperti kalimat yang tak ingin berhenti dan mati oleh tanda baca, seperti tanda baca yang tak ingin diletakkan dimana-mana. Ini menjadi semacam titik persinggungan antara mimpi dan kebingungan. Suratan bahwa usaha manusia menjadi yang utama, sekaligus bukan yang utama.

Ada semacam kebutaan, bisa dibilang seperti itu, bagi sesorang yang teramat mencintai kampus dan tak mau waktu melerai kedua tangannya, tak rela jika masa menjadikannya memutar kepala untuk meniti langkah dan menuju sesuatu berjudul masa depan.

Ini masa depan. Meski ini juga masa sekarang.

“Ah, mungkin aku terlalu mencintai tempat ini, ladang yang tak pernah kering.”

“Atau mungkin bisa jadi aku memang tak punya mimpi, mau bagaimana setelah ini,”

“Atau barangkali memang aku tak punya sesuatu berjudul masa depan. Entah, mungkin malam ini aku ditakdirkan untuk mati, karena itu aku tak pernah tau masa depan.”

Kontemplasi. Khas bagi mereka yang berada di penghujung masa pentahapan, liar berimajinasi. Tapi sepertinya ada yang salah denganku, hingga aku tak menjadi seperti yang sedang teman-temanku alami. Justru, bercengkrama dengan matahari, menanyakan mengapa pagi-pagi sekali ia sudah menggusur pergi para pujangga malam yang kesepian.

 

Pertama, begini, mula-mula surat kelulusan, kedua surat undangan.

“Aku mau jadi juara satu. Tunggu ya. Bulan November tahun ini.”

Sebuah pesan singkat kiriman kawan, tepat datang di saat burung-burung berarak pulang. Senja sudah berpamitan, malam dengan segera akan datang, bersiap tuk duduk manis dengan senyum terkembang. Dan seketika, tanpa ba-bi-bu awan pun menghitam. Hujan datang menghujam. Dinginnya begitu membekukan, seakan menggigit setiap selapis kulit tipis. Hingga memerah seakan dibalut batu bara.

Terima kasih.  Aku kesepian.

Seperti dirubung sendu. Tapi tak cukup sendu untuk berhenti tersenyum dan mendoakanmu, sekalipun engkau pasti akan meninggalkanku. Selamat ya, semoga harapanmu dikabulkan.  Semoga aku bisa datang. November kan? Semoga, saat tiba saat itu untukmu, aku bisa berbahagia untukmu, Suadariku.

Pesan singkat itu, yang datang tepat ketika burung-burung berarak pulang, berisi undangan pernikahan. Dari seorang kawan yang memastikan diri akan menggenapkan separuh dien di penghujung tahun. Bukannya aku tak bahagia, bukannya aku merasa kalah cepat atau apa. Sungguh, bukan seperti itu. Hanya saja, rasanya terlalu tiba-tiba, terlalu seketika. Seperti sesuatu yang ku pikir sangat jauh, yang tiba-tiba—ternyata—sudah ada di depan kepala. Menikah. Ah iya, aku lupa, usia dua puluh itu sudah boleh menikah.

 

Pertama, begini, mula-mula surat kelulusan, kedua surat undangan, ketiga penantian.

Kini ada kosakata baru yang berkali-kali menghampiriku, sesuatu yang lazim dilakukan oleh mereka yang sangat bersemangat menyambut masa depan, namun terhalang oleh diskusi alot para pejabat di kementerian: penantian. Kata itu terdengar aneh. Sebuah masa inisiasi yang menjadikanmu terpaksa berganti baju, tak lagi boleh menggunakan jeans dan memanggul pena, namun juga belum saatnya menggunakan blazer dan kemeja biru muda—segala sesuatu tiba-tiba menjadi membingungkan, selayaknya pemikiran khas para orang-orang dewasa yang sibuk dan tak peka. Ada kalanya penantian menjadi sesuatu yang menyenangkan, ada kalanya juga sesuatu bernama bosan menyergapmu hingga bermalam-malam.

“Berapa lama kita menunggu, menanti penempatan?”

“Mungkin tiga bulan, enam bulan. Atau satu tahun.”

“Setahun?”

“Iya.”

“Dapat uang?”

“Haha. Bukan uang, tapi kegalauan.”

“Baguslah!”

“Bagus apanya?”

“Kalau galau aku bisa bikin puisi. Kalau bikin puisi aku bisa terkenal.”

“Terkenal?”

“Iya, seperti WS Rendra.”

“Memangnya kenapa kalau seperti WS Rendra?”

“Kalau terkenal, aku akan dapat uang.”

“Begitukah?”

“Iya.”

 

Pertama, begini, mula-mula surat kelulusan, kedua surat undangan, ketiga penantian, keempat masa depan.

Selalu ada hening yang meruyak ketika aku harus bertalu-talu meneguhkan diri, memandangi setiap yang pernah bersama yang kini sudah meniti jalan mereka, masing-masing. Sesuatu yang sangat mungkin menjadi titik nadir, atau bisa pula menjadi titik paling gilang-gemilang. Sesuatu itu, mereka menyebutnya, masa depan.

Tiba-tiba saja menangkupkan tangan di depan dada, menengadahkan kepala, seraya dengan lirih berkata pada Maha Pencipta.

“Kalau Peter Pan itu nyata, aku ingin menjadi seperti dia. Tak tumbuh dewasa. Begini saja. Selamanya.”

Namun seketika seakan ada yang terlepas dari kelopak mata. Peter Pan itu tak nyata—konyol! Dan doaku pasti khayal semata. Tak akan dikabulkan. Kecuali..

Kecuali jika aku mati. Itu artinya, aku tak kan tumbuh dewasa, iya tak tumbuh dewasa. Tak perlu meninggalkan kampus, tak perlu menanggalkan jaket almamater dengan hiruk-pikuk demonstrasi yang ku sukai. Tak perlu bercengkrama dengan bosan hingga berbulan-bulan hanya untuk penantian. Tak perlu dilempar ke ujung pulau ketika penempatan. Tak perlu melangkahkan kaki dari sorak-sorai wisuda. Tak perlu berhenti menjadi mahasiswa.

Mungkin memang benar adanya, mungkin aku terlalu jatuh cinta; dengan kampus ini, dengan status mahasiswa ini, dengan segala euforia ini.

Sekalipun begitu, aku tetap tak ingin mati. Tidak saat ini.

Kalau begitu, aku tetap harus dewasa. Tetap harus wisuda. Tetap harus dengan sabar menanti penempatan. Dan yang mutlak, tetap harus bersuka cita.

 

Ibu. Ini anakmu. Ketika engkau berusia dua puluh dulu, apakah lebih baik dariku?

Ibu. Ketika engkau berusia dua puluh dulu, apakah yang engkau rasakan? Apa engkau kebingungan juga, dilanda ketakutan, atau justru, engkau sedang melahirkanku, dan tertawa bahagia?

I

bu?

***

2 thoughts on “Dua Puluh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s