Mahasiswa

Naluri Pahlawan

“Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Tantangan-tantangan besar dalam sejarah hanya dapat dijawab oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Itulah sebabnya kita menyebut para pahlawan itu orang-orang besar.

Itu pula sebabnya mengapa kita dengan sukarela menyimpan dan memelihara rasa kagum kepada para pahlawan. Manusia berhutang budi kepada para pahlawan mereka. Dan kekaguman itu adalah sebagian dari cara mereka membalas utang budi.

Mungkin karena itu pula para pahlawan selalu muncul di saat-saat yang sulit, atau sengaja dilahirkan di tengah situasi yang sulit. Mereka datang untuk membawa beban yang tak dipikul oleh manusia-manusia di zamannya. Mereka bukan kiriman gratis dari langit. Tapi sejarah kepahlawanan mulai dicatat ketika naluri kepahlawanan mereka merespon tantangan-tantangan kehidupan yang berat. Ada tantangan dan ada jawaban. Dan hasil dari respon itu adalah lahirnya pekerjaan-pekerjaan besar.

Tantangan adalah stimulan kehidupan yang disediakan Allah untuk merangsang munculnya naluri kepahlawanan dalam diri manusia. Orang-orang yang tidak mempunyai naluri ini akan melihat tantangan sebagai beban berat, maka mereka menghindarinya dan dengan sukarela menerima posisi kehidupan yang tidak terhormat. Tapi orang-orang yang mempunyai naluri kepahlawanan akan mengatakan kepada tantangan-tantangan kehidupan itu: “Ini untukku!”

Naluri kepahlawanan lahir dari rasa kagum yang dalam kepada kepahlawanan itu sendiri. Dan itu akan menggoda ‘sang pengagum pahlawan’ untuk melihat dirinya sembari bertanya: Apa engkau dapat melakukan hal yang sama? Apabila ia merasa memiliki kesiapan-kesiapan dasar, maka ia akan menemukan dorongan yang kuat untuk mengeksplorasi segenap potensinya untuk tumbuh dan berkembang. Jadi, naluri kepahlawanan adalah kekuatan yang mendorong munculnya potensi-potensi tersembunyi dalam diri seseorang, kekuatan yang berada di balik pertumbuhan ajaib kepribadian seseorang.”
-Anis Matta-

Saya yakin kita disini adalah pahlawan, hanya saja kita belum menyadari.

Pahlawan itu -menurutku- punya kesigapan dalam bekerja. Ketika ia tau ia berkewajiban melaksanakan amanah, maka ia akan dengan sigap mengerjakannya, dengan segenap upayanya, demi hasil yang sempurna. Ketika ia bermalas-malasan, menunda-nunda, maka ia bukan pahlawan, bahkan bisa jadi ia sedang merobohkan bangunan kepahlawanan orang lain. Dengan menunda-nunda, bisa jadi kita secara tak langsung mendzolimi teman-teman yang lain. Mendzolimi organisasi lain, mendzolimi teman-teman satu amanah, bahkan mungkin kita sedang mendzolimi para pemimpin kita. Mereka yang seharusnya bisa bekerja cepat, hanya karena menunggu kita yang lambat, maka pekerjaannya pun terbengkalai. Sadarkah? Bisa jadi, karena kita belum juga menumbuhkan naluri kepahlawanan kita, kita justru menjadi pengacau bagi yang lainnya.

Atau ketika kita sudah berusaha dengan segala daya dan upaya, namun menemui berbagai aral melintang. Justru disitulah letak daya tariknya. Bahwa hambatan sesunguhnya hanyalah tantangan. Berinisiatiflah, berkreasilah, gunakan segala daya yang kita miliki untuk menyelesaikannya, karena dengan begitu kita akan menjadi pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang sebenarnya.

Jadi, sudah kah kita menjadi pahlawan, minimal bagi setiap amanah yang kita emban?
Karena sesungguhnya, amanah ini tak hanya ditagih lewat LPJ keuangan, atau LPJ kinerja, atau dihadapan ketua organisasi.
Amanah ini, akan dipertanggungjawabkan kepada Sang Pencipta kita. Rabb kita. Lalu nanti, kelak, kita akan berkilah dengan alasan apa? Dengan alasan apa? Tidak mood, malas, banyak tugas, pengen tidur, lupa, bosen, sungkan, atau, alasan apa? Pahlawan besar tidak akan berkilah dengan alasan-alasan remeh seperti itu. Pahlawan besar akan berdiri dengan gagah, menyelesaikan setiap amanah. Sekalipun tak sempurna, ia telah berupaya dengan segenap jiwanya.

Sudahkah kita memiliki naluri pahlawan?

(Tulisan ini saya tujukkan untuk diri saya sendiri, dan bagi siapapun yang sedang belajar mengemban amanah. Semoga Allah menyelamatkan kita dari diri kita sendiri)

6 thoughts on “Naluri Pahlawan

    1. IMHO:
      Pahlawan itu bisa jadi hanya seorang manusia yang biasa saja, namun ia memiliki semacam naluri (perhatian, tanggung jawab, kesigapan diri) untuk terus bergerak menuju “kesempurnaan” baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya. Dan naluri itu lah yang saya bicarakan disini.
      Sepertinya definisi itu hanya interpretasi simpel saya yang di dapat bacaan dan dari apa yang saya amati selama ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s