Rindu

Ukhuwah yang Merindu

Kini sudah Desember, rindu itu mulai terengah-engah, sempoyongan mencari penawarnya.

 

Ada semacam gembira tatkala kemarin di kelas—akhirnya—ada yang membicarakan para kandidat yang akan maju di Pilpres 2014. SMI lah, Ical lah, HNW lah, dan serta merta ada sejumput lega: sekian artikel yang kutelan akhirnya menemukan salurannya, tak hanya mengendap begitu saja.

Detik berikutnya, aku sadar. Astagaa, aku merindukan kalian berdua! Haha. Pilpres 2014, bisa teringat kalian berdua? Luar biasa!!

 

Bukan. Bukannya aku tak lagi pernah berdiskusi, atau curhat dari hati ke hati dengan saudari. Tapi rasanya, kalau dengan kalian itu berbeda.

 

Kita bisa sekali duduk berjam-jam dan sudah keliling dunia-akhirat. Paket lengkap, taukah?

Seperti ketika kita duduk bersama. Bengong, begitu bahasamu.

Mula-mula jeda kuliah ke Gramedia, kemudian akan ada percakapan tentang cerpen terbaru di Kompas atau Tempo, para penulis sekaliber Sungging Raga, Sapardi Djoko Damono, Seno Gumira, Linda Christanty, bahkan yang paling sering ku hindari, Agus Noor dan Djenar. Kalian jatuh hati pada “tetesan musim bunga” dan aku jatuh hati pada “hujan air mata di kereta senja.” Kemudian kita beranjak ke Goenawan Muhammad, tentang Tigrisnya, tentang Ibadah Puisi-nya, yang kemudian—entah—kita berdiskusi seru tentang dukungannya kepada salah satu calon yang maju di Pilkada DKI kemarin.

 

Berangkat dari sana, kita akan menggebu-gebu berpolemik dengan elektabilitas, rasionalitas, fuguritas, juga yang sedang marak di provinsi kita ini: sistem birokrasi dinasti. Juga tentang Jokowi dengan kenyentrikannya, dan HNW dengan para kadernya yang ruhul istijabah. Kemudian, kita akan dengan seru menebak-nebak berapa banyak mahasiswa kampus kita yang menggunakan hak pilihnya.

Lantas, di saat yang sama, kita akan tiba-tiba teringat pemilu di Mesir, kemenangan Dr. Mursi yang kini membawa angin segar, lalu pada revolusi “Arab Spring” lengkap dengan memperturutkan Erdogan dan Turki disana. Juga pada obrolan seru saat Putra Mahkota Raja Saudi yang—kala itu—menjadi topik yang sangat hangat, tentang invisible hand yang diam-diam merajut benang antara semenanjung Arab dan Amerika. Berkata Amerika, kita kemudian teringat saudara kandungnya: Israel.

Serta merta kita akan bergeser ke Gaza. Fathi Farahat, Faris Audah, anak-anak Palestina yang kita begitu ingin menjadi seperti sosok yang melahirkan mereka. Izzudin Al-Qossam, Syaikh Yasini, Ismail Haniya, petinggi Hamas, yang kita begitu takjub dengan keberanian dan kekuatan ruhiyah mereka. Kebencian menjalari kita karena bom fosfor putih yang meledak di Gaza, dan sorak-sorai terlontar dari kita tatkala Tel Aviv digempur rudal kiriman Palestina.

 

Detik berikutnya, kita akan menyusuri bom fosfor dan menemukan serangkaian modal Israel lainnya, yang tak pernah lepas dari kaitan organisasi rahasia dan dollar yang mengalir disana: Freemason lah, Illuminati lah. Hha, aku ingat ini bahasan yang paling kalian suka. The new world order. Serta-merta, entah bagaimana ceritanya, kalian akan sangat mengkritik habis-habisan film-film yang dibintangi Natalie Portman, Scarlett Johansson, Mila Kunis, Mandy Moore, atau bahkan si Potter Daniel Radcliffe. Kenapa ta? Karena mereka Yahudi. Begitu katamu. Masya Allah :’)

Dari sini, kita akan—secara tak sadar—berganti membahas film terbaru, The Hunger Games, Skyfall, dan yang lain. Dan kita—tiba-tiba saja—sudah duduk manis dengan kacamata 3D menyaksikan Hugo di XXI Bintaro Plaza. Hehe.

 

Seusainya, kita pasti akan bercerita betapa inginnya kita pergi ke luar negeri, memetik sakura, berselancar salju, atau sekedar merasakan udaranya yang berbeda. Kemudian, akan ada mimpi yang susul-menyusul: Oxford University, London School of Business and  Finance, Melbourne University, Tokyo University, dan bahkan, yang paling dekat dengan kita: ekstensi FEUI.

Dari FEUI, kita akan teringat Pak Sampurna, dosen Keuangan Publik, Ketua MBM yang lanjut ke UI, dosen favorit kita (y). Lalu Pak David yang keren, Bu Erny yang asiiik banget banget, Pak Joran yang enerjik, Pak Ichsan yang gokil, dan Bu Antick yang –subhanallah- seperti Kate Winslet versi akhwat pake jilbab, cantiknya banget kuadrat *melipir*

 

Bersyukur pada Pak David yang dengan tugas pekanan Manajemen Keuangannya yang seabrek, hingga kita berhasil membajak ruang di J204. Saham IHSG, kondisi perusahaan, IDX, Inflasi, arbitrase, future value. Yaah, meski ga ngerti-ngerti banget, yang jelas aku bersyukur pada tugas (hampir) tidak manusiawi itu, setidaknya, kita bisa merayakan ukhuwah. Bercerita. Dan Oh My Rabb!! Aku tak pernah menyangka kalian akan seserius itu mendengarkan ceritaku tentang imam sholat :’)

 

Wah, sudah panjang😀

 

Lihatlah, betapa aku—sebagai gadis berusia 20tahun—merasa utuh. Utuh sebagai mahasiswa, lengkap dengan BEM-MC-Aksara-MBM yang kalian pun turut berkecimpung di dalamnya. Juga utuh sebagai seorang muslimah, yang diajak melingkar dan ber-dzikrul maut sambil muhasabah. Berderai, lantaran teringat amal yaumiyah yang tambal-sulam, tapi selalu punya tekad untuk bangkit, untuk tetap berada di jalan juang ini, tetap berada di barisan tarbiyah ini.

 

Kini sudah Desember, rindu itu mulai terengah-engah, sempoyongan mencari penawarnya.

 

Yah, akhirnya kalian tau, ini surat cinta terbuka, untuk dua saudari yang Allah pinjamkan padaku untuk melangkah bersama. :’))

 

Rindukah kalian, juga?

Banyak topic seru  yang sudah kita lewatkan: Pemira UI yang calon tunggal, Dekrit Mursi dengan polemiknya, BEM STAN yang udah semesteran, buku angkatan yang mahal, atau sekedar duduk sambil menikmati Mie Aceh. Bertiga. Seperti yang selalu kita lakukan kala jeda kuliah :’))

 

 

Untuk:

Kiki yang baik, jurnalis jempolan, muslimah shalihah, mahasiswa yang (akhirnya) merasakan bagaimana ngekos itu. Terima kasih yaa, setiap berada di dekatmu, aku merasa kaya. Kaya akan pengetahuan yang kau bagikan yang membuatku selalu ingin menggali lebih dalam. Juga pada sekian pemaknaan kita terhadap materi tarbiyah yang selama ini kita dapatkan, kita sempat berjuang bersama dan terlunta-lunta bersama. Hhe. Oh iya, aku suka tulisanmu, ilmiah, cerdas, dan sangat mengena, diam-diam aku belajar banyak darimu. Ayo kita ke UK, ki! :p

 

Ita yang cantik, bendahara buku angkatan (aku dan kiki pikir kamu lebih cocok jadi debt collector looh), muslimah shalihah, yang kosnya masih tetap setia bertetangga dengan kosku. Terima kasih yaaa, setiap berada di dekatmu, aku selalu merasa kamu mampu membuatku jadi ikut nyastra, *halah* Aku suka tulisanmu, lembut bangeet, menyentuh, manusiawi banget, dan aku suka banget pake kuadrat. Sapardi mah kalah. Hhe. Ayo ta buruan biki buku!😀

 

“Mengapa saya menulis? Mungkin karena saya ingin selalu mendekapmu erat lewat kata-kata.”

Kiki dan Ita, ukhibbukunna fillah :’))

 

 

COMIC UNYUUU

 

2 thoughts on “Ukhuwah yang Merindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s