Menulis

Mempengaruhi Pembaca

 

Hypnotic writing adalah saat tulisanmu membangkitkan imajinasi (gambar, suara, rasa) lalu mempengaruhi pembaca.

 

Menulis itu terbagi menjadi 2, yaitu:

 1. Conscious

 2. Unconscious

 

Menulis di area conscious adalah menulis sadar. Saya menafsirkannya sebagai upaya menulis yang seakan butuh kerja keras, berpikir hebat, kemudian dengan penuh hati-hati dan teliti menuliskan suatu tulisan. Kalau diterka-terka, buku-buku yang ditulis di area conscious adalah semacam karanganWarren Reeves, Stice Skousen, KiesoDominic Salvator, yang membuat pembacanya harus berkali-kali mengulang bacaan dan mengerutkan kening. (Oia, yang ini murni pemahaman saya loh ya :D)

Sedangkan di area unconscious adalah menulis tidak/bawah sadarUnconscious writing sebagai suatu upaya bahwa menulis dilakukan dengan spontan, mengalir, apa adanya, mudah mempengaruhi dan mudah dipengaruhi, dan penulis idealnya berada di ranah ini.

Bicara tentang mudah dipengaruhi, saya yakin beberapa (atau bahkan semua) dari kita pernah membaca buku kemudian menangis, atau terhanyut dalam alur buku hingga tak sudi melepaskan buku itu dari tangan sebelum menamatkannya, atau sekalipun telah selesai membacanya, ada sebongkah rasa yang tertinggal dan mengendap dalam diri kita yang mempengaruhi pribadi diri kita. Yup, itu lah hypnotic writing!

Tentang menangis ketika baca buku, saya ingat dulu pernah menghadiri Bedah buku Ayat-Ayat Cinta sekitar 4-5tahun yang lalu. Kira-kira begini, Habiburahman el-Shirazzy bertanya pada audience kurang lebih, “Ada yang menangis ketika membaca adegan dimana Maria meninggal dan akhirnya Fahri hidup dengan Aisyah?” Kami para audience (keculai saya karena waktu itu belum baca bukunya, hehe) serempak menjawab “Iyaaaaaaaa….” Kemudian Habiburrahman berkata lagi, “Jauh sebelum pembaca menangis, saya sudah menangis duluan ketika menuliskan adegan itu.”

Jleb. Ilmu baru buat saya yang waktu itu masih 15 tahun dan bermimpi mengalahkan J.K. Rowling dan tirani Harry Potter-nya (haha)

Ternyata ada transfer emosi antara penulis dan pembaca, ketika penulis marah dalam suatu adegan cerita, maka dilain dimensi waktu dan jarak, pembaca yang membaca adegan yang sama akan ikut marah, ketika penulis menangis dalam satu adegan cerita, maka pembaca juga akan menangis ketika membaca adegan cerita yang sama. Disana guys letak critical area itu, benar-benar hypnotic writing, ketika imajinasi pembaca bangkit dan terpengaruhi dengan tulisan maka sebelumnya penulis juga telah melakukan hal yang sama.

Tiba-tiba juga inget percakapan di kelas bersama kawan-kawan yang sama-sama bermimpi menjadi penulis besar,

“Gue ga bisa nulis bagus kalo gue ngga galau, Shaf. Makanya gue harus galau dulu, biar ntar pembaca gue juga ikutan galau kayak gue, bahkan lebih. Dan ketika pembaca jadi galau, maka tulisan itu bisa dianggep bagus.” –saputerr

 

(Ini ditulis ketika masih aktif di Hypnotic Writing Camp, training keren yang pernah saya ikuti. Semoga bermanfaat!)
🙂

3 thoughts on “Mempengaruhi Pembaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s