Mimpi

Tak Ada Alasan Untuk Tak Berprestasi #3

sumber gambar

Naah, akhirnya nyampe juga di Part 3😀

Ups, bagi yang belum baca tulisan sebelumnya, sila baca dulu ya di Part 1 dan Part 2.
Di sini, saya akan menceritakan ulang kisah Bang Iko yang kuliah S1 di NTU Singapore dan S2 di Tsukuba University, Japan. Saya pribadi sih dapet banyak banget pelajaran dari kisah ini, semoga begitu juga dengan teman-teman yang membaca blog ini :’)

 

Di awal sesi, Bang Iko bilang: “Sebenernya sewaktu kecil, saya pernah tinggal di Tokyo selama lima tahun, karena orang tua ambil S2 dan S3 di sana. Jadi sejak awal saya sudah tahu bagaimana atmosfer pendidikan di sana, dan sejak pulang ke Indonesia, saya berjanji saat itu untuk bisa kembali ke Jepang.”

Dari kalimat Bang Iko ini, saya awalnya sudah kehilangan kekaguman dan minat mendengarkan *halah bahasanya*

‘Jadi, orang tuanya udah keren? Ga kaget lah ya kalo anaknya juga keren.’

Kurang lebih begitu yang ada di pikiran saya. Seakan-akan yang berhak untuk menjadi orang yang layak diteladani adalah mereka yang berasal dari keluarga super sederhana yang kemudian anaknya dapet beasiswa di luar negeri, kemudian serta merta mengangkat derajat keluarga. Iya, setidaknya itu yang –sampai saat sebelum saya selesai mengikuti seminar ini— melekat di benak saya.

Ditambah lagi, ayahnya Bang Iko yang menjadi guru besar di UI dan mendapat posisi penting –entah lupa apa—di UI sana. Juga ibu beliau yang juga insinyur jebolan Teknik Kimia ITS dan kakak beliau yang juga insinyur dan sekarang menetap di Singapore. Kurang dari sedetik untuk bisa menyimpulkan bahwa Bang Iko ini sangat beruntung dilahirkan dalam keluarga akademisi, yang bisa jadi semua kesuksesannya ini berkat orangtua yang menularkan semangat belajarnya ke anak.

Detik berikutnya saya memandangi istrinya Bang Iko dan batita lucu di pangkuannya.

“Si adek ini dua kali lipat lebih beruntung kali ya, punya kakek guru besar jebolan Jepang, punya bapak juga lulusan Jepang, pasti dia juga ga bakal jauh dari kakek dan bapaknya, bahkan bisa jadi lebih keren.”

Di sinilah saya tiba-tiba tercerahkan!!

Sedikit OOT, serta merta saya jadi ingat materi kajian munakahat oleh Ust. Masturi beberapa pekan yang lalu. Beliau bilang, ada beberapa tipologi rumah tangga. Yang pertama adalah Rumah Tangga Ilmu, yang kedua adalah Rumah Tangga Ibadah, baru yang ketiga adalah Rumah Tangga Tarbiyah, dst. Ustadz Masturi bilang kenapa RT Ilmu lebih utama dibanding dengan RT Ibadah, karena selazimnya kita tahu, ayat pertama yang turun untuk manusia adalah: Iqra! Bacalah! Yang mana kata “bacalah” ini punya korelasi yang amat dekat dengan ilmu dan betapa kita wajib menuntut ilmu. Jadi, sebelum beribadah, kita harus paham dulu ilmunya, biar apa yang dilakukan berkah dan mendapat ridho-Nya. Jadi, sudah seharusnya kita sebagai ummat muslim untuk menerapkan tipologi Rumah Tangga Ilmu di dalam keluarga yang (akan dan sedang) kita arungi *ceilah ;D

Ustadz Masturi juga berpesan bahwa nanti ketika membangun RT, kita harus mengupayakan agar rumah dan keluarga kita senantiasa bergairah dan bersemangat dalam menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun umum.

Kemudian, aduh OOT lagi, teringat sebuah perkataan seorang saudari saat kami sedang menyetorkan hafalan, dan saya yang saat itu sedang membutuhkan motivasi lebih untuk menambah hafalan. Al-ukh berkata:

“Kita selalu memimpikan kita menikahi seorang lelaki yang hafidz, dan melahirkan anak-anak yang hafidz dan hafidzah. Tapi bagaimana mungkin itu bisa terjadi, kalau tidak dimulai dari diri kita sendiri? Setidaknya, kita tetap harus mencoba sekuat yang kita bisa, sekeras yang kita mampu.”

Ngejleb lah itu mah, minimal buat saya pribadi.. T,T

 

Nah kembali ke seminar dan Bang Iko sebagai pembicaranya. Mungkin memang mulanya saya sempet hmmm apa yah, semacam tidak lagi menganggap kisahnya sebagai sesuatu yang hebat. Tapi setelah saya teringat tentang Tipologi Rumah Tangga Ilmu yang pernah disampaikan oleh al-Ustadz, dan perkataan seorang saudari tentang betapa kita harus memulai dari diri kita sendiri. Saya diam-diam justru kagum pada orangtuanya Bang Iko ini. Okelah ya kalo Bang Iko ini bisa kita anggap ‘beruntung’ karena dilahirkan di keluarga akademisi dan ia pun punya semangat membara untuk menuntut ilmu. Tapi justru saya belajar banyak dari orangtuanya Bang Iko yang ibaratnya merencanakan dan mempersiapkan ‘keberuntungan’ anak-anaknya dengan memulai dari diri mereka sendiri, dan mereka lah yang menciptakan atmosfer pendidikan di dalam keluarga itu.

 

Yak OOT lagi, saya jadi ingat kisah Muhammad al-Fatih sang penakluk Konstantinopel yang dikisahkan dengan lengkap oleh Ust Felix Siauw dalam bukunya Muhammad al-Fatih 1533. Teringat betapa besar peran sang ayah yaitu Sultan Murad yang sudah terlebih dahulu mencoba menggempur Konstantinopel meski belum berhasil, dan betapa besar perhatian beliau terhadap pendidikan anak-anaknya, juga pada semangat membara yang dengan amat cantik beliau wariskan kepada anak-anaknya. Sehingga, sejak kecil Muhammad al-Fatih sudah teramat bersemangat dan  sudah sangat siap untuk melanjutkan misi ayahnya serta membuktikan ucapan Rasulullah bahwa konstantinopel akan takluk oleh Islam. Di buku ini, saya mendapat gambaran yang luar biasa konkret bahwa orang tua punya peranan yang sangat sangat sangat sangat amat besar bagi karakter dan bahkan keberhasilan anaknya.

 

Kembali ke seminar, saya akhirnya mengambil sebuah kesimpulan yang bahkan bisa memotivasi diri kita sendiri:

Jika ingin berprestasi, mulai lah berusaha saat ini juga, sekarang juga. Karena jika kita berprestasi, secara tak langsung, kita juga sedang mempersiapkan anak-anak kita kelak menjadi orang-orang yang juga berpresatasi.

 

Bayangin aja yah kalau kita berprestasi dan punya semangat membara dalam menuntut ilmu, suami (atau istri) kita juga orang-orang yang bergairah dalam mengejar ilmu, anak-anak kita pun nantinya akan seperti itu, begitu pula denga cucu-cucu kita kelak, hingga cicit, hingga anaknya cicit, hingga anaknya anaknya cicit.

Jika kita memulai dari diri sendiri, menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, maka sebenarnya kita sedang membangun sebuah peradaban, sebuah kebangkitan. Bayangkan saja, bisa jadi, dari rahim kita, dengan semangat yang sudah kita himpun sejak sekarang, kelak nanti akan lahir Muhammad al-Fatih yang baru, Ibnu Sina yang baru, Ibnu Khaldun yang baru, dan kebangkitan islam pun akan menjadi suatu kenyataan yang teramat nyata… :’))

5 thoughts on “Tak Ada Alasan Untuk Tak Berprestasi #3

  1. Sip tulisannya…setidaknya bisa memotivasi sy yg sedang bingung lanjut di dlm atau diluar negri. Syukran atas ilmunya ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s