Mimpi

Tak Ada Alasan Untuk Tak Berprestasi #2

Sudah baca halaman sebelumnya? Kalau belum ayo klik dulu disini.

Nah setelah mantap dengan motivasi, saya akan melanjutkan menulis beberapa hal yang menurut saya keren dan bisa diambil hikmahnya oleh kita.

Selanjutnya adalah: Pantang Menyerah!

Bang Iko bercerita tentang betapa banyak alumni SMAN 8 Jakarta yang melanjutkan kuliah S1 di berbagai kampus di luar negeri, apalagi Singapura. Bahasa beliau sih: “Singapur itu udah kayak jajahannya anak-anak SMA 8.” Wooww, ampe segitunya kah? Hhe, setau saya memang anak-anak SMA 8 itu pinter-pinter bangeeett dan anaknya orang-orang kaya bangeeett, jadi ya ga kaget-kaget amat sih :p

Dengan banyaknya alumni yang bertebaran di Singapur, termasuk NTU, Bang Iko merasa tidak rendah hati. Maksudnya, begini, secara logika kakak-kakak kelasnya Bang Iko yang kuliah di NTU itu memiliki kemampuan yang ga akan jauh berbeda dari Bang Iko sendiri, dan itu lah yang menjadi semacam penguatan keyakinan bhwa mereka aja bisa, saya juga pasti bisa!

Untuk hal ini, sya mengalaminya sendiri. Saya melihat lumayan banyak kakak kelas saya yang diterima kuliah di STAN, meski jumlah pendaftar dan jumlah yang diterima itu agak mengenaskan (bayangin aja, dari 100.000 lebih pendaftar di seluruh Indonesia, yang diambil cuma 2.000. Gila kan itu sebenernya -,-) Dan setiap tahunnya ada belasan sampai puluhan kakak kelas dari SMA saya yang masuk ke STAN (untuk ukuran kota kecil mungil di pinggir Jawa Timur, itu membanggakan loh ya ;D) dan yang ada di benak saya saat itu: mereka-mereka yang diterima di STAN itu diajar dengan guru-guru yang sama dengan guru-guru yang ngajar saya, dengan kurikulum yang juga sama, dengan atmosfir belajar yang kurang lebih sama, ibaratnya kami berada di dalam ‘rahim’ yang sama, logikanya kemampuan kami tidak akan jauh berbeda. Kalo dia bisa, saya juga dong yah, pasti bisa laah. Dan ternyata keyakinan seperti ini menjadikan semacam sugesti bahwa saya pasti bisa. Dan nyatanya, saya memang bisa mengalahkan ratusan riibu pesaing lainnya untuk masuk di STAN *bangga* :’)

Dari sini saya menarik satu hal sederhana berjudul: sugesti. Yap, sugesti itu bekerja dibawah alam sadar kita, dan jangan ditanya betapa besar peranan sugesti dalam hidup kita. Jadi mulai sekarang ketika kita pengen kuliah di luar negeri, tanamkan sugesti apapun asal positif di dalam benak kita yang membuat kita yakin kita bisa🙂

Selanjutnya, masih dalam tahapan “Pantang Menyerah,” Bang Iko menceritakan bagaimana perjuangannya untuk mendapat beasiswa S2 di Jepang. Ada beberapa tips dan trik yang secara general bisa diterapkan untuk kita-kita yang mau nyari beasiswa S2 luar negeri:

  • Fokuslah dalam menekuni satu bidang tertentu, kalau kuliah S1 teknik material, maka ambil 1 bidang dari teknik material yang paling menarik buatmu dan paling bisa kamu kuasai untuk melanjutkan ke S2. Harus fokus, ga boleh S1-nya teknik terus mau S2 ekonomi, kalo di Indonesia sih bisa-bisa aja, tapi kalau di luar negeri apalagi beasiswa, kita harus fokus dalam satu bidang tertentu,
  • Banyak-banyaklah melempar CV, motivation letter, dll ke Professor. Hunting professor sapa aja dan mana aja yang bisa kita mintai untuk memberi rekomendasi untuk kita lanjut kuliah dan dapet beasiswa. Tapi professornya yang terkait sama bidang kita loh ya, jadi disini tetep harus fokus juga. Oh iya, Bang Iko bilang, ketika nulis motivation letter ke Professor, jangan berbusa-busa, sampaikan apa-apa yang menjual diri kita, tapi ga usah terlalu banyak. Dan yang paling saya suka: don’t tell them, but show them! Jangan bercerita kalau kita pandai ini dan itu, bisa ini dan itu, misalnya kita ga perlu bilang kita pandai membagi waktu antara kuliah dan organisasi. Cukup lampirkan nilai IPK kita yang cumlaude  (aamiin) serta daftar pengalaman organisasi kita yang seabrek. Dengan begitu, kita ga perlu tell betapa kerennya kita (hoho) tapi kita show betapa kita memang keren. Oia, perhatikan juga bahasa Inggris kita di motivation letter itu, jangan berantakan. Kalau memang ga jago bahasa Inggris, minta tolong ke temen yang jago, atau sapa gitu. Pokoknya kita harus bsa “menjual diri” dengan elegan,
  • Terkait packaging, judul email misalnya. Jangan bikin judul email yang norak seperti “I Want to be your student.” Kalo judul email kayak gitu, humble sih emang, tapi kayaknya ga bakal dilirik-lirik amat sama Professor. Kalo pengalaman Bang Iko biasanya nulis judul email dengan kalimat “Prospective Student.” Nah, keliatan kan bedanya? Juallah diri kita dengan elegan😉
  • CV dan motivation letter yang kita buat jangan cuma dikirim ke satu-dua professor aja. Kalau bisa kirim ke 50 professor sekaligus, masa sih diantara 50 itu ga ada yang kasih feedback? Dan kalau pun memang ga ada (hehe) jangan putus asa, kirim aja terus ke lebih banyak lagi professor, teruslah berikhtiar🙂
  • Berdoa! Nah yang ini menjadi pengawal usaha kita. Kalo usaha doang tanpa doa ya jangan banyak berharap deh. Doa itu penting, lebih dari itu, doa itu nyawa dari sebuah usaha. Doa harus ada di depan, di tengah dan di akhir perjuangan kita. Doa harus ada disetiap jengkal upaya kita. Percaya deh, Allah itu SUNGGUH MAHA MENDENGAR ^.^

Nah, ini baru usaha apa aja yang Bang Iko sampaikan ke peserta seminar. Masih ada beberapa cerita lagi, go to the next page yaa: Part 3🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s