Mimpi

Sabung Mimpi

Musim bunga sudah berlalu, sejak seribu kali purnama tenggelam.
Dihari ketika kita berhenti menadah hujan, engkau menjadi dirimu—sejak saat itu; sedangkan aku kelimpungan, kehilangan pegangan tangan.

Hanya tersisa selembar malam, untuk menjadi juragan sabung mimpi: antara puisi, ataukah undang-undang perbendaharaan.
Engkau bersikukuh, bahwa tak ada yang lebih sendu dibanding langit yang berpendar, menelusupkan sebaris kalimat di ujung harkat; tanpanya, kau bilang aku akan mengidap penyakit gila jilid dua. Tak ada obatnya, dan kau bilang, hanya kau lah yang mampu menyembuhkannya.

Di titik relativitas ini, tiada dari kita yang mau mengalah. Engkau dengan mimpimu, dan aku dengan mimpiku.

“Mungkin sebaiknya kita berhenti menceracau,”

“Oh ya? Ku pikir kita justru sedang berbalas puisi,”

“Kalau begitu semua puisimu tak ada yang nyata,”

“Bukankah, kita berdua memang tak nyata?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s