Mahasiswa

Separuh Jalan

Sudah hampir berlalu empat semester, dan semoga akan bertemu lagi dengan dua semester berikutnya. Hingga topi toga, hingga foto bertiga dengan ibu ayah dan selembar kertas di pigura, hingga kata wisuda.

Sudah hampir empat semester hidup saya di kampus ini, itu artinya sudah separuh jalan meniti kelulusan. Yup, kuliah yang ditempuh dalam tiga tahun—Kebendaharaan Negara, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.

 

Hanya rasanya, ada sesuatu yang salah, ada sesuatu yang mengganjal—apa memang sudah separuh jalan? Apa memang sudah menjadi mahasiswa??

 

Ketika SMA, saya pernah bercita-cita untuk menjadi tim mahasiswa teknik dari Indonesia yang bertanding ke Jepang dalam lomba pertambangan minyak dan batu bara atau menciptakan detector gempa—mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.

Ketika SMP, saya pernah bercita-cita berjabat tangan dengan Presiden karena saya telah membangun perpustakaan terbesar di seluruh negeri, dari Sabang sampai Merauke, saya ingin semua anak SMP di seluruh Indonesia membaca buku-buku yang saya baca dan membuat mereka sadar betapa sangat kerennya novel fantasy Harry Potter itu (maklum, dulu Potter freak -,-)

Ketika SD, saya pernah bercita-cita untuk bisa seperti kakak-kakak yang saya temui di layar TV, dengan spanduk, TOA, kain merah putih sebagai ikat kepala, dan jas almamater yang dikenakan dengan bangga. Saya ingin seperti mereka, ikut menyemut turun ke jalan dan naik ke atas atap hijau Gedung DPR MPR RI, dan yang saya tahu saat itu hanyalah mereka-mereka itu membuat foto Presiden di depan kelas berganti menjadi Habibie.

Kini—cita-cita saya apa? Sekadar doa akan ada angka 3,9 dan mendapat penempatan di salah satu Direktorat Jenderal di Kementrian Keuangan. Itu saja (?)

 

Sudah seperuh jalan. Satu setengah tahun saya menggeluti apa itu inflasi, apa itu demand-supply, apa itu pajak, apa itu APBN, dan apa itu utang-piutang Negara. Hingga saya kembali mengingat masa-masa itu.

 

 

Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaaan

Kepada rakyat yang kebingungan di persimpang jalan

Kepada pewaris peradaban yang telah menggoreskan

Sebuah cataan kebanggaan di lembar sejarah manusia

Wahai kalian yang rindu kemenangan!

Wahai kalian yang turun ke jalan!

Demi mempersembahakan jiwa dan raga untuk negeri tercinta

 

 

Lagu itu pertama kali saya dengar saat penerimaan mahasiswa baru di Graha Medika, sebuah aula di sebuah Universitas di Jawa Timur. Beberapa pekan kemudian saya kembali menyanyikannya di Gedung G Kampus Ali Wardhana—kali itu saya bernyanyi dengan lantang hingga serak, ikut berlompatan dengan kepalan tangan yang meninju udara, begitu bersemangat, begitu penuh energi, seakan semangat tiga ribu mahasiswa baru yang meninju udara dengan kepalan tangan dan suara lantang itu mampu mengguncang seisi Jakarta.

 

Totalitas Perjuangan.

 

Lama sesudahnya, saya hampir tak pernah lagi bernyanyi dengan penuh semangat dan suara lantang hingga serak, dengan tinju udara dan almamater biru tua yang gagah. Seakan tak lagi menemukan momentum untuk menyanyikannya. Hanya ketika ospek saja kah semangat itu (?)

 

 

Tak pernah berjuang pecahkan teka teki malam

Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka teki keadilan

Akan aku telusuri jalan yang setapak ini

Semoga ku temukan jawaban

-Gie-

 

 

 

Sekarang sudah separuh jalan, kawan.

Apa saya masih bisa tetap di panggil ‘mahasiswa’? Padahal rasanya saya belum berbuat apa-apa untuk negeri ini, saya belum berpeluh keringat dan berdarah-darah demi bangsa ini, saya belum seperti mahasiwa FE-FK-Fasilkom UI yang berani dan lantang menggugat rektor mereka yang dianggap korup, saya belum seperti mahasiswa Teknik Geologi UGM yang memeragakan detector gempa terbaik di seluruh dunia ketika lomba di Italia dan mengharumkan nama Indonesia, saya belum menjadi seperti Danang A. Prabowo yang  menginspirasi mahasiswa IPB dengan Sang Pembuat Jejak-nya, saya belum seperti Halim Nuswantoro dan Teddy yang menjadi semifinalis English Debate di Manila dan mengharumkan nama STAN English Club serta Indonesia.

Saya belum seperti mereka.

Kepanitiaan ini, kepanitiaan itu. Organisasi ini, organisasi itu.

Tapi tetap saja, rasanya masih belum apa-apa.

Saya belum seperti mereka yang berteriak lantang demi negaranya.

Saya belum berpeluh keringat dan berdarah-darah.

Saya sudah apa?

Saya sudah melakukan apa?

Saya belum berbuat apa-apa untuk bangsa ini.

Lantas, apa saya (masih) layak di sebut mahasiswa?

 

 

 

 

Beberapa pekan lagi kita akan dilantik, kawan. Sudah kah benar niat dalam hati ini? Untuk apakah jabatan ini melekat di pundak kita? Semoga, lewat amanah ini, kita bisa membuktikan bahwa kita memang pemuda-pemuda dengan semangat menyala, untuk agama, untuk bangsa.

Bismillah🙂

BEM STAN 2012-2013: Bersatu untuk Perbaikan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s