Rindu

Bulan Juni; Rindu yang Sunyi

Dijadikannya rindu yang transparan, memberengus waktu yang dimabuk kasmaran. Di bawah perlintasan takdir, kita tidak sengaja bersitatap ragu-ragu.

Kamu tergugu, aku termangu.

Senja yang semakin merah lantas berkelindan, meruyak warna merahnya hingga jatuh di kedua sisi pipi. Bersemu. Ah, mungkin tidak sesederhana itu.

Bisa saja—sebenarnya—kita saling mengenal walau tak kenal. Pada perjanjian dalam rahim para ibu, mungkin kita pernah bertemu, tuk sekedar mengucap salam untuk sungging yang tersemat malu-malu. Mangaitkan diri pada temali asa untuk terus menyala. Bersama-sama, mungkin kata itu yang pernah terucap dulu, sebelum debur ombak mengangkat sauh, sebelum fiksi berubah menjadi langit biru. Kemudian rintik cahaya berkemas terburu-buru, melerai ujung jemari kita yang membisu, dan kita pun terlanjur lahir oleh rahim yang berjauhan, yang berseberangan.

Pepohonan,

tanah,

layang-layang,

dan embun yang selalu jernih menunggu di ujung daun yang membatu; kesemuanya seakan rapi menjulurkan mimpi, mengentas sunyi, memanggil awan untuk mengantarkan catatan langit berisi janji. Bisa saja—sebenarnya—kita saling mengenal walau tak kenal.

Di Bulan Juni yang lembut, aku akan terus berhenti memberengut. Betapa tidak? Mungkin catatan langit kembali turun, untuk gemuruh bunga yang tak kunjung ranum. Hingga suatu ketika dibawah kubah, diantara bulan yang begitu gagah, perayaan takdir kembali terulang.

Kamu tergugu, aku termangu.

Dan tak ada apapun yang bisa membuatku berhenti bergumam pada dinding-dinding coklat muda. Kita—mungkin—pernah ada, di kehidupan sebelumnya. Dalam adegan yang sama. Dengan sosok yang sama. Dalam diam pun yang, bahkan, sama.

Kemudian, malam-malam sesudahnya tak pernah habis tanpa rinai hujan. Hujan yang menyejukkan, hujan yang menggetarkan, hujan yang—seolah—menumpahkan tangis tanpa bisa teredam.

Karenanya, bukan mustahil jika secarik harapan berdiri nyalang. Bisa saja—sebenarnya—kita saling mengenal walau tak kenal.

“Tak ada yang lebih tabah dari hujan Bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

 

Tak ada yang lebih bijak dari hujan Bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

 

Tak ada yang lebih arif dari hujan Bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu”

-Sapardi Djoko Damono-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s