Muslimah

Senja Merah Tua

Enam belas tahun,

26 Februari 2008, jam empat sore.

Lamat-lamat ku teliti setiap inchi yang melekat di badan, jilbab polos merah tua yang manis menempel membungkus rapat kepala dan rambutku, blues longgar warna putih dengan segaris merah tua di tiap tepi lingkaran tangan dan pinggang, juga celana gelap hasil jerih payah membongkar baju-baju terabaikan di lemari ibu. Masih menatap cermin dengan jantung berdebar layaknya ombak samudra yang bergulung-gulung, juga napas pendek-pendek yang memburu seperti dikejar hantu, ada sejumput merah tua yang entah bagaimana caranya, bersemu merona di wajahku. Sebentuk sumringah, juga gugup yang menggelora.

Tiba-tiba saja kedua pipi menjadi berwarna merah tua, seperti senja dibalik jendela yang sedang mengeksekusi matahari, juga seperti warna jilbab yang membungkus rapi kepala yang berkeringat dingin ini.

Senja pertama, jilbab pertama, berwarna merah tua…

***

            Gedung Serbaguna STKIP Pasuruan,

23 Februari 2008, jam tiga sore,

menanti garis-garis senja yang belum menyala.

Desing kipas angin berdebu dan segala hiruk-pikuk seminar kepenulisan, mengundang penulis kenamaan yang lama beroleh ilmu di negeri piramida, Habiburrahman el-Shirazy. Ya, semua yang ada di dalam gedung itu tengah gelisah menunggu sang narasumber yang tak kunjung tiba, pun denganku, yang sibuk mengibas-kibaskan buku tulis di samping leher, sekuat tenaga mengusir gerah yang menggigit.

“Ga panas, ya Luf? Apalagi kamu kan baru pake jilbab…” tanyaku pada seorang sahabat yang ku ingat betul kuajak ia tuk menemaniku mengunjungi seminar dari FLP Pasuruan. Lufi Nur Masfufa, begitu nama yang tercetak di daftar siswa sekolah kami.

“Udah mulai terbiasa kok, Fir, kan udah jalan beberapa bulan…” jawabnya simpel, dengan seraut senyum yang tersungging manis.

Kemudian tiba-tiba saja gerah menjadi memudar, tergantikan dengan obrolan kami yang kemana-mana, sekolah, guru, film, orang tua, termasuk juga keputusannya untuk mengenakan jilbab sejak melangkahkan kaki di bangku SMA.

“Jadi, sebenarnya kenapa?” tanyaku kala itu.

“Disuruh Ibu sebenernya, aku ya nurut-nurut aja, kan emang pake jilbab itu wajib hukumnya,” begitulah kurang lebih jawaban yang Lufi sampaikan, jujur dan jernih. Aku manggut-manggut mengiyakan, kata-kata ‘pakai jilbab itu wajib hukumnya’ terngiang-ngiang di telinga.

Sudah lama memang banyak orang yang mengingatkanku untuk segera berjilbab, tapi entah hati ini belum tergerak untuk melapisi kepala dengan sepotong kain. Bahkan, sempat bertanya-tanya apakah berjilbab itu memang benar-benar wajib atau sekadar sunnah, lha wong ga semua muslimah pakai jilbab kok. Kalau zakat, puasa ramadhan, semua orang melakukannya, tapi menutup aurat?

Dan terus, keyakinan itu belum kokoh adanya, mungkin hati ini yang bebal karena terlampau banyak bermaksiat, ah iya, mungkin saja!

Kemudian hening, pembicara yang ditunggu-tunggu itu pun akhirnya datang juga: Kang Abik! Sang penulis novel Ayat-Ayat Cinta yang legendaris itu.

Seminar berjalan dengan sangat cepat, secepat matahari yang telah digenggam ruas-ruas gelap malam, hingga beberapa menit sebelum adzan maghrib berkumandang, panitia mengadakan sesi tanya jawab. Spontan aku mengacungkan tangan tinggi-tinggi, bahkan sampai hati beradegan lari-lari ke depan sambil melompat-lompat agar panitia memilihku sebagai penanya. Bisa jadi yang sedang mengacungkan tangan untuk bertanya memang puluhan orang, dan aku adalah salah satu dari sekian banyak peserta bersemangat meledak-ledak yang bersikeras ingin dipilih untuk bertanya. Tak digubris. Aku tak patah arang, naik ke atas bangku dan tetap berdiri mengacungkan tangan tinggi-tinggi. Sempat ditarik turun oleh kawan-kawanku yang menganggapku berlebihan, atau mungkin juga mereka menahan malu karena kawannya terlampau bersemangat untuk ikut bertanya, yah, siapa tau doorprize untuk penanya adalah novel karangan Kang Abik, kan lumayan buatku.

“Huh! Udah lompat-lompat tapi ga dipilih juga!!” gerutuku sambil kembali berjalan ke bangku peserta seminar.

“Hahaha, sabar  ya Fir… Itu kayaknya yang dipilih yang berkerudung semua deh,” timpal salah seorang kawan yang juga bertemu di seminar itu, Arrizky namanya, seseorang yang dinobatkan sebagai Einstein di sekolah kami.

Aku melongok memandangi satu per satu penanya yang ada di depan panggung. Iya! Semua penanya perempuan adalah mereka yang berkerudung. Aku memandangi mereka dengan hampa. Apa perlu berkerudung dulu untuk sekedar nanya ke penulis novel Islam??

Sambil memegang kedua tanganku yang berkeringat sehabis melompat-lompat mengacungkan tangan, Lufi, yang duduk tepat di samping kananku, tiba-tiba berujar,

“Ukhti, izinkanlah aku sebagai sesama muslim tuk mengingatkanmu agar menutup aurot.”

Nyeeessss….

Ada sebuah kekuatan kasat mata yang tiba-tiba saja menelusup di ceruk kalbuku. Padahal hanya sepotong kalimat sesederhana itu, diucapkan hanya sekali di depan mataku, dan sebuah pegangan tangan lembut seorang saudari kepada saudarinya. Entah, bagaimana mengatakannya, perpaduan antara sekian banyak hal yang sangat mampu untuk membuatku menunduk malu. Malu. Luar biasa malu.

“Ya udah, kita sholat maghrib dulu yuk, terus langsung pulang…” begitu ajaknya, aku masih menunduk dengan lidah kelu, berjalan seperti zombie keluar ruangan seminar, mengekor dibelakangnya.

Mushollah mungil STKIP Pasuruan menjadi luar biasa penuh sesak, antrian wudlu yang mengular tampak seperti antri sembako, dan aku hanya berdiri pasrah menunggu antrian wudlu, masih dengan segala macam perasaan yang berkecamuk di dalam ulu hati. Tentang jilbab, jilbab, jilbab. Dan mataku tiba-tiba saja terhenti di sebuah mading mushollah yang sepi aksen dan warna.

Gambar seorang gadis arab yang lucu sekali, meski dengan mudah ditebak bahwa gambar itu hasil fotokopian karena warnanya yang hitum putih tanpa warna-warna ceria, tetap saja bahkan aku merasa gemas dan ingin mencubit kedua pipinya, begitu lucu dan manis dengan selembar kain yang asal saja ia sarungkan di kepalanya. Juga sebaris kalimat disampingnya:

“Mbak, aulotnya ditutup yah, malu diliat Alloh”

Spontan aku memegang rambut hitam sebahuku yang kugerai begitu saja.

Dan jantung ini berdebar kencang sekali, luar biasa kencang sekali.

Duh Gustiii….!! Bahkan Engkau mengingatkanku berkali-kali hari ini…

Betapa malunya aku, malunya aku. Sungguh luar biasa bukan main malunya aku. Allah setiap waktu melihatku, dengan rambut hitam sebahu yang selalu ku banggakan ini. Bisa jadi, para lelaki di sekolah, di jalanan, di warung samping rumah,  para tetangga, juga melihat rambut hitam lebat sebahuku ini. Duh, mengapa aku bangga sekali memamerkan apa yang seharusnya ku simpan? Allaaah, malunya aku, malunya aku.

***

Enam belas tahun,

26 Februari 2008, jam empat sore lebih lima belas menit.

Butuh tiga hari untuk berdamai dengan diri sendiri, bersepakat dengan hati, berjibaku dengan segala polemik yang tumpang tindih, juga, meyakinkan Bapak Ibu bahwa jilbab ini takkan pasang-surut menghijabi diri.

Jilbab merah tua dibawah senja.

Senja yang menguning, dengan rautan warna merah tua yang bersiap menenggelamkan matahari perlahan. Gamang, kaki ini menginjakkan beton lahan parkir tempat lesku di Jalan Wahidin. Ada jutaan gugup yang bersesak-sesak memenuhi dada, keringat dingin lamat-lamat membasahi tangan dan sekujur tubuh. Duhai, ini senja pertama dengan kerudung merah tua. Apa yang akan dikatakan teman-temanku, aku yang bertingkah blingsatan ini tiba-tiba saja berjilbab begini. Apa kata sahabat-sahabatku, aku yang jutek dan suka marah-marah ini tiba-tiba saja berselimut jilbab rapi. Apa kata guru-guruku, aku yang suka protes ini tiba-tiba saja terbungkus menjilbabi diri. Duhai, bagaimana reaksi mereka? Tertawa? Mengejek? Menghina? Mengatakan bahwa aku tak pantas berjilbab? Mengatakan bahwa aku jelek luar biasa? Bagaimana kalau tiba-tiba teman-temanku bersikap berbeda padaku? Tak lagi mengajakku tertawa-tawa, karena kini aku berjilbab?

Duh Gusti, Ya Allaaah… Bagaimana ini, masih saja bergeming diantara motor dan sepeda, di lahan parkir depan tempat lesku ini.

Melangkah. Tidak. Melangkah. Tidak. Melangkah. Tidak. Melangkah. Tidak. Melangkah. Tidak. Melangkah. Tidak. Melangkah. Tidak. Melangkah. Tidak. Melangkah. Tidak. Melangkah. Tidak. Melangkah. Tidak. Melangkah. Tidak. Duh, apa aku pulang saja?

Tapi sekali lagi, ada kekuatan kasat mata yang menuntun kakiku untuk melangkah, memasuki kelas, dan menyadari bahwa aku sudah terlambat.

“Assalamualaikuum…” pelan, sangat pelan, bahkan aku ragu seisi kelas mendengar salamku.

“Wa’alaikumsalam…”

Dan seisi kelas, seorang tentor dan belasan teman lesku, menatapku yang beku di bibir pintu. Belasan pasang mata yang memandangku sekujur badanku. Hening. Mereka hening, aku juga hening. Seakan detik-detik keheningan itu membuat gugupku kembali liar beranak-pinak di dalam diriku.

“Alhamdulillaaaah… Selamat ya, semoga jilbabnya awet dan diridhoi Allah,” ucap Lufi, sambil menjabat tanganku. Juga sepasang mata ceria miliknya, juga senyum tulusnya yang hingga kini takkan pernah ku lupa.

“Eh, kalo pake jilbab dapat selamat ya?” tanyaku bodoh.

Lufi tersenyum, berkali lipat lebih teduh dan lebih sejuk.

Dan sekujur semesta rasanya dipenuhi rasa haru, teman-temanku yang ramai-ramai mengucapkan selamat, juga tentor matematika yang tersenyum begitu hangat. Andai tak ada banyak orang disana, aku pasti sudah menangis bahagia, terharu atas segala reaksi teman-temanku. Andai tak ada banyak orang disana, aku pasti sudah menangis, saat itu juga, di tempat itu juga.

5 thoughts on “Senja Merah Tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s